#Majulah Dunia Perikanan dan Kelautan Indonesia# Pengetahuan yang kita miliki bukan milik dan untuk kita pribadi # Diharapkan Commentnya ya ^-^ #

Laporan Praktikum Limnologi

LAPORAN PRAKTIKUM
LIMNOLOGI

Oleh :
Kelompok A2
Bagian 2

 

 

Daftar Nama Kelompok A2 Bagian 2 Praktikum Limnologi
Mahasiswa Perikanan 2010

1. Yeni Nur Hafifah 230110090053
2. Naylaturohmah 230110090061
3. Humaira Nurrafita 230110090062
4. Adistyo Mulyonugroho 230110090064
5. Januar C. Wibowo 230110090065
6. Muchamad Syihabulhaq 230110090066
7. Ria Ariati 230110090067
8. Latifah 230110090068
9. Paksi Widhyan Prakoso 230110090073
10. Poberson Naibaho 230110090074
11. Yulianti 230110090075
12. Ahmadi Sofwan Kamal 230110090079
13. Maulana Ridwan 230110090080
14. Kusma I.I. 230110090081
15. Dendy Firmansyah 230110090052
16. Boy Dwikiyarto 230110090054

 

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2010


BAB I
PENDAHULUAN

Limnologi (dari bahasa Inggris: limnology, dari bahasa Yunani: lymne, “danau”, dan logos, “pengetahuan”) merupakan padanan bagi biologi perairan darat, terutama perairan tawar. Lingkup kajiannya kadang-kadangmencakup juga perairan payau (estuaria). Limnologi merupakan kajian menyeluruh mengenai kehidupan di perairan darat, sehingga digolongkan sebagai bagian dari ekologi.Dalam bidang perikanan, limnologi dipelajari sebagai dasar bagi budidaya perairan (akuakultura) darat.

Istilah Limnologi pertama kali digunakan oleh seorang ilmuwan berkebangsaan Swiss (François Alfonse Forel) pada tahun 1892 yang mendefinisikan limnologi sebagai cabang ilmu yang mempelajari komponen biotik di perairan darat permukaan yang bersifat menggenang atau lentik. Tahun 1966, Dussart melengkapi definisi tersebut menjadi cabang ilmu yang mempelajari seluruh fenomena dan saling interaksi antar komponen biotik dan abiotik yang terjadi di dalamnya, baik pada ekosistem perairan darat permukaan yang tergenang (lentik) maupun pada perairan darat permukaan yang mengalir (lotik).
Para ahli mencoba menyederhanakan pengertian limnologi ini dengan “ilmu yang mempelajari proses interaksi faktor fisika, kimia dan biologi dalam sistem perairan darat (inland waters), dimulai dari garis pantai ke arah darat”, yang dimaksud adalah perairan tergenang dan mengalir yang berada di daratan. Ilmu limnologi selain mendeskripsikan sifat morfologis, tipe habitat, keaneka-ragaman hayati, dan proses-proses dasar yang terjadi di dalamnya.

Berdasarkan definisi tersebut, maka objek kajian limnologi mencakup areal garapan yang meliputi biota (flora dan fauna) yang hidup di dalam badan air dan sedimennya, kualitas air serta tipe perairan atau bentuk cekungan morfologi perairan dan hidrodinamikanya (yang sangat mempengaruhi komunitas biota dan kualitas air). Lebih jauh lagi, karena perairan darat itu sangat terkait dengan daerah/kawasan yang berfungsi sebagai pensuplai airnya (Daerah Aliran Sungai=DAS), maka pengaruh aktivitas antropogenik di DAS masing-masing perairan darat itu pun termasuk dalam kajian cabang ilmu yang disebut limnology.
Di dalam ruang lingkup limnology tentu saja banyak factor yang memberikan pengaruh terhadap perairan. Salah satunya mikroorganisme seperti bakteri yang bertanggung jawab untuk mendekomposisi limbah organik. Bila bahan organik seperti tanaman mati, daun, kliping rumput, pupuk, kotoran, atau bahkan sampah makanan hadir dalam pasokan air, bakteri akan memulai proses pemecahan limbah ini. Ketika ini terjadi, banyak yang tersedia oksigen terlarut dikonsumsi oleh bakteri aerobik, organisme air lainnya mengambil oksigen yang mereka butuhkan untuk hidup.
BOD ( Biochemical Oxygen Demand) kebutuhan oksigen biologis merupakan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme untuk mengoksidasi bahan-bahan buangan dalam air. Dengan kata lain, BOD menunjukkan kebutuhan oksigen oleh organisme untuk mengoksidasi bahan-bahan buangan yang terlarut dalam air

Nitrat dan fosfat dalam tubuh air dapat berkontribusi terhadap tingkat BOD yang tinggi. Yang menyebabkan kehidupan tanaman dan ganggang untuk tumbuh dengan cepat. Jika tanaman tumbuh dengan cepat, mereka juga mati dengan cepat. Ini berkontribusi pada limbah organik di dalam air, yang kemudian diurai oleh bakteri. Hal ini menyebabkan tingkat BOD yang tinggi. Para suhu air juga dapat berkontribusi untuk tingkat BOD yang tinggi. Seiring dengan peningkatan suhu air, laju fotosintesis oleh ganggang dan tanaman lainnya di dalam air juga meningkat. Ketika ini terjadi, tanaman tumbuh lebih cepat dan juga mati lebih cepat. Ketika tanaman mati, mereka jatuh ke bawah di mana mereka terurai oleh bakteri. Bakteri yang membutuhkan oksigen untuk proses ini sehingga Direksi tinggi di lokasi ini. Oleh karena itu, peningkatan suhu air akan mempercepat dekomposisi bakteri dan menghasilkan tingkat BOD lebih tinggi.

DO (Dissolved Oxygen) atau oksigen terlarut adalah oksigen terlarut yang terkandung di dalam air, berasal dari udara dan hasil proses fotosintesis tumbuhan air. Ketika Direksi tingkat tinggi, oksigen terlarut (DO) menurun karena tingkat oksigen yang tersedia di dalam air sedang dikonsumsi oleh bakteri. kurang oksigen terlarut Sejak tersedia dalam air, ikan dan organisme air lainnya tidak mungkin bertahan hidup. Untuk mengetahui tingkat BOD, diperlukan waktu 5 hari untuk melengkapi dan dilakukan dengan menggunakan uji oksigen terlarut kit. Tingkat BOD ditentukan dengan membandingkan tingkat DO dari sampel air yang diambil langsung dengan tingkat DO dari sampel air yang telah diinkubasi di lokasi yang gelap selama 5 hari. Perbedaan antara dua tingkat DO merupakan jumlah oksigen yang diperlukan untuk dekomposisi dari berbagai bahan organik dalam sampel dan merupakan pendekatan yang baik dari tingkat Direksi.

Ketika tingkat BOD tinggi, terjadi penurunan DO di tingkat. Hal ini karena permintaan oksigen oleh bakteri yang tinggi dan mereka mengambil oksigen dari oksigen yang terlarut dalam air. Jika tidak ada hadir sampah organik dalam air, tidak akan ada seperti sekarang banyak bakteri untuk menguraikannya Direksi dan dengan demikian akan cenderung lebih rendah dan tingkat DO akan cenderung lebih tinggi.
Pada tingkat BOD yang tinggi, organisme seperti makroinvertebrata yang toleran lebih rendah oksigen terlarut (yaitu lintah dan cacing lumpur) dapat muncul dan menjadi banyak bertahan. Organisme yang membutuhkan tingkat oksigen yang lebih tinggi (yaitu caddisfly larva dan nimfa mayfly) tidak bertahan.
Penghitungan BOD dan DO dilakukan untuk mengetahui kadar oksigen serta kualitas air.Air merupakan pelarut yang baik, sehingga air di alam tidak pernah murni akan tetapi selalu mengandung berbagai zat terlarut maupun zat tidak terlarut serta mengandung mikroorganisme atau jasad renik.Apabila kandungan berbagai zat maupun mikroorganisme yang terdapat di dalam air melebihi ambang batas yang diperbolehkan, kualitas air akan terganggu, sehingga tidak bisa digunakan untuk berbagai keperluan baik untuk air minum, mandi, mencuci atau keperluan lainya. Air yang terganggu kualitasnya ini dikatakan sebagai air yang tercemar. Oleh karena itu pratikum ini dilakukan untuk meneliti kadar DO dan BOD yang terdapat dalam air.

BAB II
KEGIATAN PRAKTIKUM

1. Tempat dan Waktu Praktikum

Praktikum I

 Tempat : Cekdam
 Waktu : Pukul 08.00 wib

Praktikum II
 Tempat : Laboratorium Manajemen Sumber Daya Perairan
 Waktu : Pukul 08.00 wib

Praktikum III
 Tempat : Laboratorium Manajemen Sumber Daya Perairan, dan Cekdam
 Waktu : Pukul 08.00 wib

2. Alat dan Bahan Praktikum

2.1 Alat Praktikum :

  1. Termometer air raksa : Untuk mengukur suhu air yang berada di cekdam
  2. Seechi disk : Untuk mengukur tranparansi cahaya
  3. pH meter : Untuk mengukur pH air
  4. Erlenmeyer 100ml : Untuk menampung sample air
  5. Refractometer : Untuk mengukur salinitas air
  6. Pipet tetes : Untuk mengambil sample yang digunakan
  7. Botol winkler 300 ml : Sebagai media sample dalam percobaan
  8. Kertas saring (wattmen) : Untuk menyaring sample air
  9. Corong kecil : Untuk mempermudah dalam memasukkan air
  10. Gelas ukur : Sebagai media dalam mengukur sample air
  11. Aquades : Sebagai bahan pengencer air
  12. Spektrofotometri : Untuk mengukur transmitan atau absorban
  13. Stopwatch : Sebagai pengukur waktu dalam percobaan
  14. Buret : Untuk mengeluarkan larutan dengan volume tertentu

2.2 Bahan Praktikum

  1. larutan indicator Phenolphtalein : Sebagai indikator asam
  2. larutan NaOH 0,1 N : Sebagai indikator basa
  3. larutan indicator Methyl Orange : Sebagai indikator basa
  4. larutan HCL 0,1 N : Sebagai indikator asam
  5. larutan MnSO4 : Sebagai indikator titrasi
  6. larutan O2 Reagent : Sebagai indikator titrasi
  7. larutan Na2S2O3 0,02 N : Sebagai indikator titrasi
  8. larutan H2SO4 : Sebagai indikator asam

3. Parameter, Metode, dan Alat- alat yang Digunakan

Praktikum 1

  • Parameter Alat Metode Tempat (Cekdam)
  • Suhu air
  • Transparansi cahaya
  • Ph air Termometer air raksa
  • Seechi disk
  • Ph meter Termometrik

Praktikum 2

  • Parameter Alat Metode Tempat
  • Kadar Oksigen Terlarut
  • Kadar Amonia
  • Kadar Absorban DO meter
  • electrode selektif ion
  • Spectrofotometer
  • Titrasi
  • Spectrofotometrik Laboratorium Manajemen Sumber Daya Perairan
  • Laboratorium Manajemen Sumber Daya Perairan

Praktikum 3

  • Parameter Alat Metode Tempat
  • Produktivitas Primer Oksigen Botol Winkler Titrasi Cekdam

Prosedur Percobaan :

Praktikum I

No Alat dan bahan Metode

  1. Termometer air raksa
  2. Seechi disk
  3. pH meter
  4. gelas ukur dan gelas
  5. Erlenmeyer 100ml
  6. MnSO4 dan O2 Reagent
  7. H2SO4 pekat
  8. NaS2O3 0,02 N
  9. Thermometer
  • Ukur suhu air pada beberapa titik sampling (rata-rata suhu), pada saat melihat skala thermometer, ujung termometer harus tetap berada dalam air.
  • Ukur Transparansi cahaya dengan alat Seechi disk pada beberapa titik dan mahasiswa yang berbeda agar diperoleh data rata-rata yang akurat.
  • Ukur pH air dengan alat pH meter, pembacaan nilai pH pada display pH-meter, dicatat paa saat angka/nilai pH yang terbaca stabil.
  • Ambil sample air dari suatu perairan (sungai/danau) sebanyak 50 ml dengan gelas ukur, masukan kedalam gelas Erlenmeyer 100ml.
  • Buka tutup botol, lalu tambahkan 1/2 ml/8 tetes larutan MnSO4 dan 1 ml larutan O2 Reagent, tutup botol lalu kocok dan biarkan hingga endapan mengendap sempurna hingga menjadi warna coklat.
  • Buka tutup botol, lalu tambahkan 2 ml/15 tetes H2SO4 pekat dengan hati-hati, kemudian tutup kembali botol winker tersebut, lalu kocok dan biarkan endapan larut sempurna hingga berwarna kuning.
  • Masukan 50 ml sample kedalam gelas Erlenmeyer lalu titrasi dengan larutan NaS2O3 0,02 N hingga warna berubah jadi bening stabil. Catat Na2S2O3 yang terpakai (untuk akurasi data, lakukan 2 kali untuk point 4 ini, hasilnya dirata-ratakan).

Praktikum II

No Alat dan Bahan Metode

  1. Sample
  2. kertas saring
  3. Air saringan dan akuades yang jenuh
  4. botol Winkler
  5. Inkubator
  6. Air dari Cekdam
  • Saring sample air yang diambil dari periran dengan menggunakan kertas saring bebas abu
  • Masukan air hasil saringan sebanyak 200 ml kedalam gelas ukur 1000 ml dan encerkan dengan akuadest 200 ml yang telah jenuh dengan oksigen (telah diareasi sebelumnya), hingga volume mencapai 400 ml (pengenceran 2 x),kocok agar homogen.
  • Masukan sample air tersebut kedalam 2 buah botol Winkler hingga penuh dan tutup kedua botol tersebut dengan hati-hati (jangan terjadi gelembung udara)
  • Dari 2 botol tersebut, satu botol dikerjakan saat itu juga (dengan prosedur analisis DO) selanjutnya disebut DO0 (DO Nol hari). Dan botol winkler yang satu lagi disimpan inkubator dengan suhu 200C selama 5 hari, setelah lima hari diukur DO dengan prosedur yang sama, selanjutnya disebut DO5 (DO5 hari).

Praktikum III
No Alat dan bahan Metode

  1. 3 botol winkler (1 botol gelap, 2 botol bening )
  2. 1 botol gelap dan 1 botol bening
  3. 1 botol bening
  • Botol winkler gelap dan bening yang telah di masukkan dalam air selama 4 jam Ambil sample air dari permukaan kemudian dimasukkan ke dalam 3 botol winkler sampai meluber lalu ditutup.
  • Botol winkler bening diikat dengan tali kemudian dimasukkan dalam air, Botol winkler gelap dimasukkan ke dalam plastik dan kemudian dimasukkan kedalam air. Kemudian di biarkan selama 4 jam.
  • botol dikerjakan saat itu juga dengan prosedur analisis DO ( seperti pada praktikum I)
  • DO diukur dari kedua botol yang telah ditenggelamkan selama 4 jam. Kemudian DO kedua botol itu dibandingkan dengan botol yang dari awal langsung dicari DO nya.

4. Cara Pengukuran / Analisis

Praktikum I

  • Perhitungan Alkalinitas Permukaan

Mg/l CO2-bebas= 1000/50 x (ml NaOH terpakai) x 0,1 x 44
Dimana ; 44 = Berat molekul CO2 (Sample Permukaan)
50 = Banyaknya sample yang di titrasi
0,1 = Normalita NaOH
0,41 = ml NaOH Terpakai
Jawab :
1000/50 x 0,41 x 0,1 x 44 = 36,08 ml
Keterangan : Hasil kalibrasi pipet tetes yang digunakan adalah 22 tetes = 1 ml (maka untuk perhitungan diatas, jumlah tetes NaOH yang terpakai titrasi harus dikonversi ke ml)

  • Perhitungan Alkalinitas Kedalaman

Mg/l CO2-bebas= 1000/50 x (ml HCL terpakai) x 0,1 x 44
Dimana ; 44 = Berat molekul CO2 (Sample Kedalaman)
50 = Banyaknya sample yang di titrasi
0,1 = Normalita NaOH
0,64 = ml HCL Terpakai
Jawab :
1000/50 x 0,64 x 0,1 x 44 = 56,32 ml
Keterangan : Hasil kalibrasi pipet tetes yang digunakan adalah 22 tetes = 1 ml (maka untuk perhitungan diatas, jumlah tetes NaOH yang terpakai titrasi harus dikonversi ke ml)

  • Perhitungan DO Kedalaman :

DO= 8000 x ml Na2S2O3 terpakai x Normalita Na2So2O3 ……………………………… 50
Dimana ; 8000 = Berat molekul O2 dalam 100 ml
50 = Banyaknya sample yang di titrasi
0,294 = ml Na2S2O3 terpakai
0,02 = Normalita Na2So2O3
Jawab : = 8000 x 0,294 ml x 0,02 = 0,09 ml ………………… 50

  • Perhitungan DO Permukaan :

DO = 8000 x ml Na2S2O3 terpakai x Normalita Na2So2O3 ……………………………… 50
Dimana ; 8000 = Berat molekul O2 dalam 100 ml
50 = Banyaknya sample yang di titrasi
1,82 = ml Na2S2O3 terpakai
0,02 = Normalita Na2So2O3
Jawab : = 8000 x 1,82 ml x 0,02 = 5,83 ml ………………… 50

Praktikum 2

  • Perhitungan DO0(tidak dimasukkan ke dalam inkubator)

DO0 = 8000 x ml Na2S2O3 terpakai x Normalita Na2So2O3 ……………………………… 50
Dimana ; 8000 = Berat molekul O2 dalam 100 ml
50 = Banyaknya sample yang di titrasi
1,88 = ml Na2S2O3 terpakai
0,02 = Normalita Na2So2O3
Jawab : DO0 = 8000 x 1,88 ml x 0,02 = 6,02 ml ………………… 50

  • Perhitungan DO5(setelah dimasukkan ke dalam inkubator)

DO5 = 8000 x ml Na2S2O3 terpakai x Normalita Na2So2O3 ……………………………… 50
Dimana ; 8000 = Berat molekul O2 dalam 100 ml
50 = Banyaknya sample yang di titrasi
0,53 = ml Na2S2O3 terpakai
0,02 = Normalita Na2So2O3
Jawab : DO5 = 8000 x 0,53 ml x 0,02 = 1,69 ml ………………… 50

  • Perhitungan Kadar Amonia

TAN = 1000 Absorban Contoh 5 mikro
25 Absorban Standar
= 1000 0,032 5 mikro
25 0,024
= 0,27 mg/l
Dimana ; 1000 = Volume air
25 = Banyaknya sample yang di titrasi
0,032 = Absorban Contoh
0,024 = Absorban Standar
5 = Standar Alat

  • Perhitungan BOD

Kadar BOD-5 (mg/l) = DO0 (mg/l) – DO5 (mg/l) x “pengenceran”pl
(pengenceran tergantung jumlah pengenceran yang anda lakukan)
DO0 = 8000 x 1,88 ml x 0,02 = 6,02 ml ………………… 50
DO5 = 8000 x 0,53 ml x 0,02 = 1,69 ml ………………… 50
BOD = DO0 (mg/l) – DO5 (mg/l) x “pengenceran”pl
= (6,02 – 1,69) x 3 = 12,99 mg/l

Praktikum 3

  • Perhitungan DO(Botol Gelap)

DO = 8000 x ml Na2S2O3 terpakai x Normalita Na2So2O3 ……………………………… 50
Dimana ; 8000 = Berat molekul O2 dalam 100 ml
50 = Banyaknya sample yang di titrasi
1,88 = ml Na2S2O3 terpakai
0,02 = Normalita Na2So2O3
Jawab : = 8000 x 1,88 ml x 0,02 = 6,02 ml …………………50

  • Perhitungan DO(Botol Terang)

DO = 8000 x ml Na2S2O3 terpakai x Normalita Na2So2O3 ……………………………… 50
Dimana ; 8000 = Berat molekul O2 dalam 100 ml
50 = Banyaknya sample yang di titrasi
3,05 = ml Na2S2O3 terpakai
0,02 = Normalita Na2So2O3
Jawab : = 8000 x 3,05 ml x 0,02 = 9,76 ml ………………… 50

  • Perhitungan Net Primary Production

Keterangan :
LB = Jumlah tetes botol terang (Light Bettle)
DB = Jumlah tetes botol gelap (Dark Bettle)
IB = Jumlah tetes botol langsung dititrasi
Diketahui :
LB = 35 tetes
DB = 27 tetes
IB = 32 tetes
Respirasi = (IB DB)
= (32 27) = 5 tetes
GPP = (LB DB)
= (35 27) = 8 tetes
NPP = (LB DB) (IB DB)
= (32 27) (32 27)
= 8 5
= 3 tetes

  • Perhitungan DO(Net Primary Production)

DO = 8000 x faktor pengali x Normalita Na2So2O3 ……………………………3335
Dimana ; 8000 = Berat molekul O2 dalam 100 ml
35 = Jumlah tetes botol terang (Light Bettle)
1 = Faktor Pengali
0,02 = Normalita Na2So2O3
Jawab : = 8000 x 1 x 0,02 = 4,57 ml ………………… 35

5. Hasil Dan Evaluasi


Hasil dan Evaluasi pada praktikum I menghasilkan data parameter suhu air, transparasi cahaya, pH air yang dilakukan pada tempat cekdam.
Sedangkan pada praktikum II menghasilkan data parameter Kadar Oksigen Terlarut, Kadar Amonia, Kadar Absorban yang dilakukan pada Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan.
Dan pada praktikum III menghasilkan data parameter Produktivitas Primer Oksigen dan dilakukan pada cekdam seperti praktikum I.

Pada perhitungan praktikum I :
Perhitungan Alkalinitas Kedalaman = 36,08 ml
Perhitungan Alkalinitas Kedalaman = 56,32 ml
Perhitungan DO Kedalaman = 0,09 ml
Perhitungan DO permukaan = 5,83 ml

Pada perhitungan praktikum II :
Perhitungan DO0 (tidak dimasukkan ke dalam inkubator) = 6,02 ml
Perhitungan DO5(setelah dimasukkan ke dalam inkubator) = 1,69 ml
Perhitungan Kadar Amonia = 0,27 mg/l
Perhitungan BOD = DO0 = 6,02 ml
DO5 = 1,69 ml
BOD = 12,99 mg/l

Pada perhitungan praktikum III :
Perhitungan DO(Botol Gelap) = 6,02 ml
Perhitungan DO(Botol Terang) = 9,76 ml
Respirasi = 5
GPP = 8
NPP = 3
Perhitungan DO(Net Primary Production) = 4,57 ml

KESIMPULAN

Pengertian dari BOD itu sendiri adalah kebutuhan oksigen biokima yang menunjukkan jumlah oksigen yang digunakan dalam reaksi oksidasi oleh bakteri. Sehingga makin banyak bahan organik dalam air, makin besar B.O.D nya.
Berdasarkan PPMPL (Pusat Penelitian Masalah Pencemaran Lingkungan)

TINGKAT PENCEMARAN
Tingkat BOD (mg/l) COD (mg/l) DO (mg/l)
Rendah 0 – 10 0 – 30 > 5
Sedang 10 – 25 30 – 60 0 – 5
Tinggi > 25 > 60 0

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan maka secara umum dapat disimpulkan bahwa Dalam perairan oksigen berperan penting dalam proses oksidasi dan reduksi bahan kimia menjadi senyawa yang lebih sederhana sebagai nutrien yang sangat dibutuhkan organisme perairan. Sumber utama oksigen diperairan berasal dari proses difusi udara bebas dan hasil proses fotosintesis.
Untuk mengetahui kualitas suatu perairan, parameter oksigen terlarut (DO) dan kebutuhan oksigen biokimia (BOD) memegang peranan penting. Prinsip penentuannya bisa dilakukan dengan cara titrasi iodometri atau langsung dengan alat DO meter. 3. Suatu perairan yang tingkat pencemarannya rendah dan bisa dikatagorikan sebagai perairan yang baik yaitu kadar oksigen terlarutnya (DO) > 5 ppm dan kadar oksigen biokimianya (BOD) berkisar 0 – 10 ppm.
Semakin tinggi nilai DO maka semakin banyak kandungan bahan organik pada limbah. Hal ini menunjukkan indikasi limbah berat. Semakin tinggi nilai BOD menunjukkan banyaknya bahan organik yang dapat diuraikan oleh bakteri.

DAFTAR PUSTAKA

Metclaf,Eddy. 2003. Waste Water Engineering Design. Mc.Graw Hill. New York
PPMPL (Pusat Penelitian Masalah Pencemaran Lingkungan).Indonesia
F:\dissolved-oxygen-biochemical-oxygen.html
PUSTEKKOM©2005.html
file:///F:/Semester%202/Lymnology/PRTKM%20LIMNO/LIMNOLOGI=DARI%20IRA/Oksigen.htm
file:///F:/Semester%202/Lymnology/PRTKM%20LIMNO/LIMNOLOGI=DARI%20IRA/silabusmatakuliah.html
file:///F:/Semester%202/Lymnology/PRTKM%20LIMNO/LIMNOLOGI=DARI%20IRA/translate.htm

About these ads

Comments on: "Laporan Praktikum Limnologi" (1)

  1. [...] This post was mentioned on Twitter by Yulianti S Hidayat, poberson. poberson said: LAPORAN PRAKTIKUM LIMNOLOGI 2010 http://wp.me/p15bAY-ab [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 50 other followers

%d bloggers like this: