#Majulah Dunia Perikanan dan Kelautan Indonesia# Pengetahuan yang kita miliki bukan milik dan untuk kita pribadi # Diharapkan Commentnya ya ^-^ #

Posts tagged ‘Planktonologi’

Cyanophyta (Ganggang hijau-biru)

Tugas Planktonologi

Cyanophyta

Ganggang hijau biru adalah organisme prokariotik dan karenanya tidak terikat membran organel. Lebih erat kaitannya dengan bakteri daripada algae lain, mereka sering disebut sebagai cyanobacteria. Mereka terjadi di laut, air tawar dan habitat darat. Cyanophyta merupakan komponen penting dalam siklus nitrogen dan produsen. (more…)

Daphnia sp (Klasifikasi, Morfologi, Reproduksi), Bacillus subtilis, Bakteri Nitrifikasi, sistem kultur zooplankton, Parameter Kualitas Air

Daphnia sp


Daphnia adalah filum Arthropoda yang hidup secara umum di perairan tawar. Spesies-spesies dari genus Daphnia ditemukan mulai dari daerah tropis hingga arktik dengan berbagai ukuran habitat mulai dari kolam kecil hingga danau luas. Dari lima puluh spesies  genus ini di seluruh dunia, hanya enam spesies yang secara normal dapat ditemukan di daerah tropika. Salah satunya adalah spesies Daphnia magna (Delbaere & Dhert, 1996)

 

Menurut Pennak (1989), klasifikasi Daphnia magna adalah sebagai berikut :

Filum : Arthropoda

Subfilum : Crustacea

Kelas : Branchiopoda

Subkelas : Diplostraca

Ordo : Cladocera

Subordo : Eucladocera

Famili : Daphnidae

Subfamili : Daphnoidea

Genus : Daphnia

Spesies : Daphnia magna

 

1.2 Morfologi Daphnia magna


Pembagian segmen tubuh Daphnia hampir tidak terlihat. Kepala menyatu, dengan bentuk membungkuk ke arah tubuh bagian bawah terlihat dengan jelas melalui lekukan yang jelas. Pada beberapa spesies sebagian besar anggota tubuh tertutup oleh carapace, dengan enam pasang kaki semu yang berada pada rongga perut. Bagian tubuh yang paling terlihat adalah mata, antenna dan sepasang seta. Pada beberapa jenis Daphnia, bagian carapace nya tembus cahaya dan tampak dengan jelas melalui mikroskop bagian dalam tubuhnya.

Beberapa Daphnia memakan crustacean dan rotifer kecil, tapi sebagian besar adalah filter feeder, memakan algae uniselular dan berbagai macam detritus organik termasuk protista dan bakteri. Daphnia juga memakan beberapa jenis ragi, tetapi hanya di lingkungan terkontrol seperti laboratorium. Pertumbuhannya dapat dikontrol dengan mudah dengan pemberian ragi. Partikel makanan yang tersaring kemudian dibentuk menjadi bolus yang akan turun melalui rongga pencernaan sampai penuh dan melalui anus ditempatkan di bagian ujung rongga pencernaan. Sepasang kaki pertama dan kedua digunakan untuk membentuk arus kecil saat mengeluarkan partikel makanan yang tidak mampu terserap. Organ Daphnia untuk berenang didukung oleh antenna kedua yang ukurannya lebih besar. Gerakan antenna ini sangat berpengaruh untuk gerakan melawan arus (Waterman, 1960).

 

1.3 Reproduksi

Mekanisme reproduksi Daphnia adalah dengan cara parthenogenesis. Satu atau lebih individu muda dirawat dengan menempel pada tubuh induk. Daphnia yang baru menetas harus melakukan pergantian kulit (molting) beberapa kali sebelum tumbuh jadi dewasa sekitar satu pekan setelah menetas. Siklus hidup Daphnia sp. yaitu telur, anak, remaja dan dewasa. Pertambahan ukuran terjadi sesaat setelah telur menetas di dalam ruang pengeraman. Daphnia sp. dewasa berukuran 2,5 mm, anak pertama sebesar 0,8 mm dihasilkan secara parthenogenesis. Daphnia sp. mulai menghasilkan anak pertama kali pada umur 4-6 hari. Adapun umur yang dapat dicapainya 12 hari. Setiap satu atau dua hari sekali, Daphnia sp. akan beranak 29 ekor, individu yang baru menetas sudah sama secara anatomi dengan individu dewasa (Gambar 2). Proses reproduksi ini akan berlanjut jika kondisi lingkungannya mendukung pertumbuhan. Jika kondisi tidak ideal baru akan dihasilkan individu jantan agar terjadi reproduksi seksual (Waterman, 1960).

Daphnia jantan lebih kecil ukurannya dibandingkan yang betina. Pada individu jantan terdapat organ tambahan pada bagian abdominal untuk memeluk betina dari belakang dan membuka carapacae betina, kemudian spermateka masuk dan membuahi sel telur. Telur yang telah dibuahi kemudian akan dilindungi lapisan yang bernama ephipium untuk mencegah dari ancaman lingkungan sampai kondisi ideal untuk menetas (Mokoginta, 2003).

 

2 Bacillus subtilis


Bacillus subtilis

Bakteri ini adalah jenis bakteri yang umum ditemukan di tanah, air, udara dan materi tumbuhan yang terdekomposisi. Termasuk kelompok bakteri gram positif, aerobik, mampu membentuk endospora. B. subtilis memiliki kemampuan memproduksi antibiotik dalam bentuk lipopeptida, salah satunya adalah iturin. Iturin membantu B. subtilis berkompetisi dengan mikroorganisme lain dengan cara membunuh mikroorganisme lain atau menurunkan tingkat pertumbuhannya. Iturin juga memiliki aktivitas fungisida terhadap pathogen( Buchanan, 1975).

Berikut adalah klasifikasi B. subtilis: (Madigan, 2005)

Kingdom:Bacteria
Phylum:Firmicutes
Class:Bacilli
Order:Bacillales
Family:Bacillaceae
Genus:Bacillus
Species: B. subtilis

Pada beberapa penelitian ditemukan bahwa penambahan B.subtilis perairan dapat meningkatkan kualitas perairan dengan mengurangi konsentrasi CO2 perairan. Penggunaan        B. subtilis pada tambak udang menunjukkan bahwa B. subtilis mampu meningkatkan kesintasan larva udang windu dan mencegah dari penyakit vibriosis akibat Vibrio harveyi. Selain itu B.subtilis secara alami bersimbiosis pada saluran pencernaan udang windu (P.Kungvankij, 1985).

B. subtilis memerlukan kondisi optimum untuk tumbuh. Berikut adalah kondisi fisika kimia air optimum bagi bakteri ini  (Graumann, 2007) :

  1. DO : bakteri ini adalah jenis aerob obligat, makin tinggi DO maka makin baik untuk pertumbuhan optimalnya. Minimal ialah pada kisaran 2 mg/L
  2. Suhu : suhu optimal untuk tumbuh bagi B. subtilis adalah antara 25 – 350C
  3. pH : pH optimal antara 7 – 8.

Ammonium juga memiliki pengaruh terhadap B. subtilis yaitu dapat meminimalisasi kanibalisme antar bakteri B. subtilis (Nandy & Venkatesh, 2008).

 

3 Bakteri Nitrifikasi

Menurut Ward (1996), bakteri nitrifikasi adalah termasuk kelompok kemoautotrof yang tumbuh dengan memanfaatkan senyawa nitrogen anorganik. Banyak spesies bakteri ini memiliki sistem membran internal dimana terdapat enzim kunci dalam proses nitrifikasi. Enzim tersebut antara lain ammonia monooksigenase (mengoksidasi ammonia menjadi hidroksilamin) dan nitrit oksireduktase (mengoksidasi nitrit menjadi nitrat). Berikut adalah klasifikasi bakteri nitrifikasi : (Holt et.al, 1994)

Kingdom : Prokariotae

Divisi : Bacteria

Famili : Nitrobacteraceae

Genus : Nitrosomonas dan Nitrobacter


Nitrosomonas


Bakteri nitrifikasi tersebar di tanah dan air. Ditemukan dalam lingkungan yang terdapat ammonia (daerah banyak terjadi dekomposisi protein/saluran air buangan). Nitrifikasi secara alami merupakan hasil proses aktivitas dari dua kelompok organisme, yaitu kelompok bakteri nitratasi dan nitritasi. Aktivitas kedua kelompok bakteri tersebut adalah sebagai berikut (Ward, 1996).

Bakteri nitritasi (genus Nitrosomonas)
1. NH3 + O2 + 2e- + 2H+ → NH2OH + H2O
2. NH2OH + H2O + 1/2 O2 → NO2- +2 H2O + H+
Bakteri nitratasi (genus Nitrobacter)
NO2- + 1/2 O2 → NO3-

Bakteri nitrifikasi memiliki sebuah kondisi agar dapat melakukan proses kimia di atas dengan optimal. Beberapa kondisi tersebut antara lain (Suzuki et.al., 1974) :

  1. DO (Dissolved Oxygen) : Bakteri nitrifikasi memerlukan oksigen dalam proses metabolismenya. Setiap miligram nitrogen dalam jalur nitrifikasi (dari ammonia sampai berakhir dalam bentuk nitrat) bakteri ini memerlukan kurang lebih 4,5 mg oksigen terlarut untuk sebagai penyeimbang elektron dari substrat bernitrogen.
  2. pH : pH optimal untuk bakteri nitrifikasi adalah antara 7,5 – 8,5. Pada suatu saat setelah aklimasi pH, akan sangat baik jika pH dapat dipertahankan stabil.
    1. Suhu (T) : bakteri nitrifikasi dapat tumbuh optimal antara suhu 20 sampai 30°C. Jika temperatur menurun maka aktivitas metabolisme bakteri akan menurun. Pada suhu di atas 350C bakteri mulai mengalami stres, hal ini diperkirakan karena enzim yang rusak akibat tingginya suhu tersebut.
    2. Cahaya : bakteri ini sensitif akan kehadiran cahaya yang mendekati spektrum ultraviolet. Penyebab pastinya belum diketahui, namun diperkirakan terdapat hubungan antara superoksida radikal yang diproduksi menghambat membran oksigen.
    3. Konsentrasi nitrit – nitrogen : kebutuhan sumber nitrogen terendah menunjukan angka 0,1 mg/L bakteri ini dapat tumbuh.

 

4 Sistem Kultur yang umum dilakukan

4.1 Sistem kultur zooplankton

Secara umum, terdapat empat jenis sistem kultur zooplankton untuk keperluan pakan hidup dalam proses akuakultur yaitu :

i). Sistem statis

Sistem statis atau sistem batch merupakan sistem kultur yang paling umum digunakan. Pada sistem statis, setelah diinokulasi kultur akan dikembangkan selama periode tertentu, kemudian dilakukan pemanenan pada kultur secara keseluruhan. Sistem statis ini bersifat ekstensif dan membutuhkan ruang yang luas dalam pengerjaannya. Namun, sistem ini mempunyai kelebihan yaitu mudah untuk dilakukan (Snell, 1991).

ii). Sistem semi sinambung (Semi-continuous system)

Pada sistem semi sinambung ini, kepadatan zooplankton dijaga konstan dengan pemanenan secara periodik. Pada sistem semi sinambung sebagian volume kultur dipanen setiap hari, kemudian kultur ditambah medium baru dengan volume yang sama. Metode ini disebut juga sebagai metode perampingan (thinning method) (Snell, 1991).

iii). Sistem sinambung (continuous system)

Sistem sinambung adalah sistem kultur yang bersifat intensif. Tujuan sistem ini hampir sama dengan sistem semi sinambung, namun sistem sinambung ini lebih konsisten dalam menjaga kualitas air melalui frekuensi pergantian air kultur yang tinggi dan penggunaan kemostat (Suantika, 2001; Snell, 1991). Medium kultur baru selalu ditambahkan di dalam sistem ini, sehingga tidak diperlukan perlakuan khusus untuk menjaga pH dan mengurangi akumulasi amonia. Pada sistem ini, kepadatan kultur yang konstan dengan kualitas yang tinggi dapat dicapai. Produktivitas kultur dengan sistem sinambung lebih tinggi bila dibandingkan dengan sistem kultur statis dan semi sinambung (James & Abu Rezeq, 1997).

Sistem kultur sinambung memiliki kekurangan yaitu hanya diaplikasikan dalam skala percobaan atau eksperimen, dan belum diaplikasikan di hatchery. Sistem ini mempunyai resiko kegagalan teknis yang tinggi karena rumit, mempunyai banyak variabel yang harus dikontrol, dan membutuhkan biaya tinggi (Suantika, 2001).

iv). Sistem kultur berkepadatan tinggi (Ultra-high density culture system)

Sistem kultur berkepadatan tinggi merupakan cara efektif untuk mengkultur zooplankton tanpa memperluas area kultur. Sistem ini mempunyai kelebihan yaitu jumlah pekerja yang dibutuhkan sedikit, mempunyai produktivitas yang tinggi dan konsisten sepanjang tahun (Suantika, 2001).

Sistem kultur ini dikembangkan oleh peneliti Jepang. Dengan menggunakan kultur B. plicatilis yang mampu mencapai kepadatan 10.000 individu/mL dalam tangki berukuran 1 m2 (Yoshimura et.al,1995 dalam Suantika, 2001).

 

4.2 Sistem kultur Daphnia sp.

Berdasarkan FAO (1996), pada sistem kultur massal Daphnia sp. dikenal dua sistem khusus :

i)      Sistem Detrital

Sistem ini adalah sistem yang dibuat dari campuran medium tanah, pupuk kandang, dan air. Pupuk kandang berfungsi sebagai pupuk alami untuk menginisiasi peningkatan jumlah alga yang merupakan pakan Daphnia sp. Campuran pupuk kandang berbanding tanah ialah 1kg : 200 gr bagian dilarutkan dalam air satu liter. Sistem ini memiliki keuntungan karena mudah untuk dirawat dan Daphnia tidak mudah mengalami defisiensi nutrisi, karena alga yang beragam dalam jumlah berlimpah. Sistem ini memiliki kelemahan karena tidak cukup mendukung kondisi standar kebutuhan (tidak terkontrol) Daphnia, sehingga dapat terjadi kondisi minimnya oksigen yang menyebabkan tingginya tingkat kematian Daphnia dan rendahnya produksi telur.

ii)    Sistem Autotrof

Sistem autotrof adalah cara lain dengan menambahkan alga yang sudah dikultur ke dalam kultur Daphnia. Kultur air hijau (105 to 106sel.ml-1) ditambahkan dari alga yang dikultur secara monokultur ataupun dari tambak ikan yang memiliki spesies alga yang beragam. Pengontrolan kultur akan lebih mudah jika alga yang digunakan adalah monokultur, seperti Chlorella, Chlamydomonas atau Scenedesmus, atau campuran dari dua kultur alga tersebut. Kelemahan sistem ini adalah tidak mampu mempertahankan kultur Daphnia untuk generasi yang berlanjut tanpa tambahan vitamin ke dalam kultur Daphnia. Vitamin tersebut antara lain vitamin B kompleks, kalsium pantotenat, biotin dan thiamin.

 

5 Parameter Kualitas Air

5.1 Suhu

Suhu merupakan faktor lingkungan yang penting bagi semua organisme akuatik. Batas toleransi setiap organisme terhadap suhu berbeda-beda, tergantung dari fisiologi organisme tersebut. Di perairan suhu berpengaruh terhadap kelarutan oksigen, yang penting bagi keberlangsungan hidup mayoritas organisme akuatik. Pada percobaan kali ini suhu dipertahankan pada suhu optimal pertumbuhan Daphnia sp. yaitu 250C . Suhu optimal yang stabil akan menjaga pH dan DO dapat tetap stabil (Mokoginta, 2003).

5.2 Nilai pH

Nilai pH atau potential hydrogen merupakan indikator konsentrasi ion hidrogen yang menggambarkan konsentrasi asam. Nilai ini berbanding terbalik dengan suhu, semakin tinggi suhu menyebabkan pH semakin rendah.

Menurut Pennak (1989), pH yang baik untuk pertumbuhan Daphnia sp. Berkisar antara 6,5 sampai 8,5. Pada umumnya, lingkungan perairan yang netral dan relatif basa pada kisaran pH 7,1-8,0 lebih baik untuk pertumbuhan Daphnia sp. (Mokoginta, 2003)

5.3 Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen atau DO)

Menurut Cole (1994), kelarutan suatu gas (termasuk oksigen) pada medium cair merupakan karakteristik dari gas tersebut sendiri, dan dipengaruhi oleh tekanan, ketinggian suatu tempat, suhu dan salinitas. Kelarutan gas di medium cair menurun seiring dengan naiknya suhu dan banyaknya mineral yang terlarut dalam medium tersebut.( Salmin, 2005)

Oksigen terlarut mempunyai peranan penting dalam kehidupan Daphnia sp. Pada umumnya, Daphnia sp. dapat hidup pada konsentrasi oksigen terlarut yang cukup tinggi yaitu sekitar 4,2 – 5,1 ppm dan tidak dapat hidup pada konsentrasi oksigen terlarut kurang dari 1 ppm (Mokoginta, 2003), sedangkan menurut Delbaere & Dhert (1996), kadar oksigen terlarut minimum yang  dibutuhkan kultur Daphnia sp. adalah sekitar 3,5 ppm.

5.4 Amonia

Hewan akuatik umumnya mengekskresikan amonia sebagai hasil dari proses metabolisme. Terdapat amonia yang tidak terionisasi (NH3) dan amonia terionisasi atau ion amonium (NH4+). Amonia bersifat toksik bagi larva ataupun organisme perairan seperti Daphnia sp. karena mampu melewati membran organ dalam, sedangkan ion amonium tidak dapat melewati membran tersebut (P.Kungvankij et.al, 1985). Menurut Cole (1994), setiap hari seekor Daphnia pulex melepaskan 0,2 µg nitrogen.

Kadar amonia di perairan akan meningkat seiring dengan meningkatnya suhu dan pH. Kadar amonia yang tinggi dapat menurunkan tingkat reproduksi Daphnia sp. Kadar amonia yang aman bagi kultur Daphnia sp. adalah di bawah 0,2 mg/L (Delbaere & Dhert, 1996).

Copepods (Copepoda) Pengertian, Ciri umum, Ciri khusus, Habitat, Penyakit

Copepods

Gerak lambat macrophotography video (50%) dari remaja herring Atlantik
(38 mm) memberi makan pada-ikan copepoda pendekatan dari bawah dan menangkap setiap copepoda individual. Di tengah-tengah gambar sebuah copepoda berhasil lolos ke kiri.(Animasi membutuhkan beberapa waktu untuk beban ke kecepatan yang benar.)
(sumber :http://en.wikipedia.org/wiki/Copepod)

Copepods adalah sekelompok kecil crustaceans ditemukan di laut dan hampir setiap air tawar habitatnya. Banyak spesies yang planktonic (Drifting di perairan laut), tetapi yang lebih benthic (hidup di laut lantai), dan beberapa spesies kontinental Mei tinggal di wilayah limno-habitat dan wilayah tempat basah, seperti rawa-rawa, di bawah daun jatuh di hutan basah , bogs, mata air, kolam dan tdk kekal puddles, membasahi moss, atau diisi air recesses (phytotelmata) tanaman seperti bromeliads dan picer tanaman. Banyak tinggal di bawah laut dan air tawar gua, sinkholes, streaming atau tempat tidur. Copepods kadang-kadang digunakan sebagai bioindicators.

 

Klasifikasi :

-Kingdom: Animalia
-Filum     : Anthropoda
-Sub. F   : Crustacea
-Kelas     : Maxillopoda
-Sub. K   : Copepoda
-Ordo      : Calanoid, Harpacticoid, Cyclopoid, Gelylloida, Harpacticoida, Misophrioida, Monstrilloida, Platycopioida, Poecilostomatoida, Siphonostoida, Argulidae.
•Cope = dayung, Poda = kaki.
•Zooplankton yang paling banyak ditemukan di perairan dan memegang peranan penting dalam rantai makanan pada suatu ekosistem perairan.
•Pemakan tumbuhan terbesar di dunia.
•Tersebar pada seluruh benua di dunia, mudah beradaptasi.
•Terdapat sekitar 14.000 spesies dan 210 family
•Kaya akan nutrisi.
•Sumber protein terbesar di samudra.
•Banyak dimanfaatkan sebagai pakan alami untuk larva ikan.

Ciri umum:

• Planktonik, parasite, benthic.
• Ukuran sekitar 0,5 – 2 mm.
• Tergolong sebagai udang renik yang biasanya ada yang menyerang tubuh ikan bagian insang dan luar.
• Ada yang bersifat filter feeder dan predator.
• Kebanyakan kelompok Meroplankton
• Warna umum berwarna keabu-abuan dan kecoklatan.
• Hidup di air tawar, payau,dan laut.
• Hidup pada salinitas 25 sampai 35 ppt.
• Hidup pada suhu 17-30*C dan PH 8.

 

Ciri khusus :

• Copepoda jantan umumnya lebih kecil dibandingkan Copepoda betina.
• Tubuh bersegmen.
• Memiliki tubuh yang pendek dan silinder.
• Reproduksi menggunakan antena untuk menempel pada betina.
Anatomi Copepoda :
• Tubuhnya berbuku-buku.
• Memiliki ekor yang membulat.
• Memiliki antenna.
• Memiliki cadangan telur di bawah abdomennya.
• Memiliki cephalosome: perisai atas kepala dan beberapa segmen yang terhubungkan.

 

Habitat

  • Habitat Laut

Meskipun copepoda dapat ditemukan hampir di mana-mana mana air tersedia sebagian besar lebih dari 12.000 spesies yang dikenal hidup di laut. Karena mereka adalah biomassa terbesar di lautan beberapa menyebut mereka serangga laut. Mereka berkeliaran bebas air, liang melalui sedimen di dasar laut, ditemukan pada flat pasang surut dan dalam parit laut dalam. Setidaknya sepertiga dari semua spesies hidup sebagai asosiasi, commensals atau parasit pada invertebrata dan ikan. Salah satu hotspot keanekaragaman spesies terumbu karang tropis di IndoPacific. Beberapa spesies karang adalah host untuk sampai dengan 8 spesies copepoda.Seperti flat pasang mangrove berkerumun dengan kehidupan copepoda .

  • Habitat Air Tawar

Spesies dari Calanoida, Cyclopoida dan Harpacticoida telah berhasil dijajah semua jenis habitat air tawar dari sungai kecil untuk danau gletser tinggi di Himalaya. Meskipun keanekaragaman jenis di air tawar tidak setinggi dalam kelimpahan laut copepoda terkadang cukup besar untuk noda air. Bahkan di air tanah fauna copepoda khusus telah berevolusi.Beberapa spesies copepoda dapat ditemukan pada musim gugur daun hutan basah atau di tumpukan kompos basah, kadang-kadang dalam kepadatan cukup tinggi. Lainnya tinggal di lumut gambut atau bahkan dalam phytothelmata (kolam kecil terbentuk di axils meninggalkan tanaman) dari bromeliad dan tanaman lainnya.

 

Kelengkapan tubuh :

• Kepala sejati punyai 5 psg anggota tubuh (antena pertama, antena kedua, mandible, maxila pertama, maxilla kedua).
• Kepala antena pertama (25 segmen) berfungsi sebagai alat sensor, gerak dan proses pembuahan/copulasi (jantan).
• Antena kedua lebih pendek & berfungsi alat sensor.
• Segmen pertama thorax terdapat sepasang maxillipeds dan masing pasangan mempunyai kaki renang.
• Kaki renang (3 segmen exopod & 3 segmen endopod).
• Prosome —- cephalothorax & metasome.
• Urosome —- segmen thorax ke 6 & 7.
• Egg sac (betina).

 

PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH COPEPODA

Copepoda adalah golongan udang renik yang sering menyerang tubuh ikan bagian luar dan insang. Parasit ini dapat hidup di air tawar maupun air asin dan sangat sulit dikontrol. Anggota copepoda yang bukan parasit sering berperan sebagi inang perantara dari parasit cacing. Banyak parasit Copepoda yang menembus daging ikan tanpa dapat dicegah oleh perlakuan kimia. Parasit ini mempunyai siklus hidup yang rumit

Argulus sp.

Argulus sp. adalah sejenis udang renik yang termasuk ke dalam famili Argulidae dan merupakan ektoparasit. Organisme ini mem­punyai bentuk tubuh bulat pipih seperti kutu, sehingga sering disebut kutu ikan (fish louse). Tubuhnya dilengkapi dengan alat yang dapat digunakan untuk mengaitkan tubuhnya pada insang dan mengisap sari makanan.
Serangan parasit ini umumnya tidak menimbulkan kematian pada ikan sebab ia hanya mengisap darahnya saja sehingga ikan menjadi kurus. Luka bekas alat pengisap ini merupakan bagian yang mudah diserang oleh bakteri atau jamur. Infeksi sekunder inilah yang bisa menyebabkan kematian ikan secara masal.

Ciri-ciri ikan yang terserang argulus adalah tubuhnya terlihat menjadi kurus bahkan sangat lemah karena kekurangan darah. Bekas serangannya dapat terlihat berwarna kemerah-merahan, karena terjadi pendarahan. Jika terjadi serangan secara besar-besaran, makaArgulus sp. akan terlihat membentuk koloni di sekitar sirip dan insang.

Cara yang paling efektif untuk mencegah serangan parasit ini adalah dengan melakukan pengeringan dan pengapuran kolam serta penyaringan air. Sedangkan pengendaliannya dapat dilakukan dengan menggunakan larutan garam (NaCI) atau larutan garam ammoniak (NH 4 CI). Demikian pula dengan perendaman ikan dalam larutan bromex 0,1— 0,2 ppm. Perendaman dalam larutan lindane 0,01— 0,02 ppm sudah dapat membunuh Argulus sp. yang berenang bebas dalam waktu 5 jam, sedangkan dosis 0,013 ppm terbukti dapat membunuh secara total setelah 48 jam. Perendaman dalam larutan neguvon 1 gram per liter air selama 10-30 menit cukup ampuh untuk memberantas parasit ini.

 

 

Raferensi :

- http://www.caraternakikan.com/cara-ternak-ikan/Penyakit-Ikan-Yang-Disebabkan-Oleh-Copepoda-argulus-Sp

- http://en.wikipedia.org/wiki/Copepod

CHLOROPHYTA (Chlorophyceae) Green Algae

TUGAS PLANKTONOLOGI

CHLOROPHYTA

 

Chlorophyceae (Ganggang hijau) adalah salah satu kelas dari ganggang yang sel-selnya bersifat eukariotin (materi inti dibungkus oleh membran inti), pigmen korofil terdapat dalam jumlah terbanyak sehingga ganggang ini berwarna hijau. Pigmen lain yang dimiliki adalah Karoten dan Xantofil

 

KLASIFIKASI Chlorophyta (Green Algae) Chlorophyta (Alga Hijau)

Kingdom           : Plantae

Divisio              : Chlorophyta

Class                : Chlorophyceae

Ordo                 : Halimedales

Genus               : Caulerpa

Species             : Caulepra racesmosa

 

CIRI-CIRI UMUM CHLOROPHYTA

Bewarna hijau terang,meiliki banyak anggota,eutoriot ,ada yang koloni,uni sel dan filamen. Habitat Chrysophyta biasanya hidup di air tawar, air laut, air payau tanah – tanah yang basah , ada pula yang hidup di tempat – tempat kering. Pada umumnya melekat pada batuan, dan seringkali muncul kepermukaan apabila air surut. Sebagian lainnya hidup bersimbiosis dengan lichenes, dan ada yang intraseluler pada binatang rendah. Sebagian yang hidup di laut merupakan makroalga seperti Ulvales dan siphonales. Chlorophyta yang hidup di air tawar memiliki sifat kosmopolit, terutama yang hidup di tempat yang terkena cahaya matahari langsung seperti kolam, danau dan genangan air hujan, sungai atau selokan. Beberapa jenis ada yang hidup melekat pada tumbuhan atau hewan.

 

SUSUNAN TUBUH

Struktur tubuh bervariasi baik dalam ukuran, bentuk maupun susunanya. Untuk mencakup sejumlah besar variasi tersebut, maka alga hijau dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  • Sel tunggal (uniseluler) dan motil (ex:Chlamydomonas)
  • Sel tunggal uniseluler dan non motil (ex:Chlorella)
  • Sel senobium (koloni yanh mempunyai jumlah sel tertentu sehingga mempunyai bentuk yang relatif tetap)
  • Koloni tak baraturan (ex:tetraspora)
  • Filamen (ada yang bercabang dan tidak bercabang)
  • Heterotrikus (filamen barcabang bentuknya terbagi menjadi prostate dan erect)
  • Foliaceus atau parenkimatis (filamen yang pembelahan sel vegetatif terjadi lebih dari satu bidang).
  • Tubular (talus yang memiliki banyak inti tanpa sekat melintang)

 

SUSUNAN SEL

Dinding sel Dinding sel tersusun atas 2 lapisan, lapisan dalam yang tersusun atas selulosa dan lapisan luar tersusun atas pektin tetapi beberapa bangsa Volvocales dindingnya tidak mengandung selulosa, melainkan tersusun oleh glikoprotein.

Kloroplas terbungkus oleh sistem membran rangkap. Pigmen yang terdapat dalam kloroplas yaitu klorofil a dan klorofil b, beta karoten serta berbagai macam xantifil (lutein, violaxanthin, zeaxanthin) kloroplas dalam sel letaknya mengikuti bentuk dinding sel ( parietal,ex: ulotrix atau ditengah lumen sel ( axial,ex:muogotia).

Inti Chlorophyceae mempunyai inti seperti pada tumbuhan tingkat tinggi yaitu diselubungi oleh membrane inti dan terdapat nukleus serta kromstin. Inti umumya tunggal, tetapi jenis anggotayang tergolong dalam bangsa shiponales memiliki inti lebih dari satu.

Cadangan makanan Cadangan makanan pada chlorophyta seperti pada tumbuhan tingkat tinggi yaitu berupa amilum, tersusun oleh amilosa (rantai glukosa tidak bercabang) dan amilopektin (rantai glukosa yang bercabang).

Fototaksis dan bentuk mata

Pada chlorophyta terdapat dua tipe pergerakan fototaksis, yaitu

  • Pergerakan dengan flagella

Pada umunya sel alga hijau baik sel vegetatife maupun sel generatife ditemukan adanya alat gerak. Flagella pada kelas chlorophyceae selalu bertipe whiplash (akronomatik) dan sama panjang (isokon) kecuali pada bangsa oedogoniales memiliki tipe stefanokon. Flagella dihubungkan dengan struktur yang sangat halus disebut aparatus neuromotor, merupakan granula pada pangkal dari tiap flagella disebut blepharoplas. Tiap flagella terdiri dari axonema yang tersusun oleh 9 dupklet mikrotubula mengelilingi bagian tengah terdapat dua singlet mikrotubula. Struktur semacam ini dikenal sebagai susunan 9+2. Flagella tersebut dikelilingi oleh selubung plasma.

  • Pergerakan dengan sekresi lender

Dalam monografi tentang desmid, ditunjukkan terjadi pergerakan pada desmid di permukaan lumpur. Pergerakan tersebut disebabkan oleh adanya stimulus cahaya yang diduga oleh adanya sekresi lendir melalui porus dinding sel pada bagian apikal dari sel. Selama pergerakan kedepan bagian kutub berayun dari satu sisi ke sisi lain sehingga lendir bagian belakang seperti berkelok-kelok.

 

Perkembangbiakan

Secara vegetatif

Secara vegetatif perkembangbiakan dilakukan dengan cara fragmentasi tubuhnya dan pembelahan sel, serta pembentukan sporik yaitu dengan membentuk:

  • Aplanospora, yaitu spora yang tidak dapat bergerak, contoh: chlamydomonas
  • Planospora, yaitu spora yang dapat bergerak
  • Secara aseksual secara aseksual: yaitu dengan pembentukan zoospora, aplanospora, hipnospora, autospora, dan konjugasi. Konjugasi, yaitu sel protoplas tumbuhan I ke tumbuhan II. Contoh: spyrogira.

Konjugasi ada 3 yaitu:

  • Konjugasi bentuk tangga (skalariform), yaitu pertemuan 2 protoplas di saluran konjugasi. Contoh: spyrogira.
  • Konjugasi bentuk lateral, yaitu perkawinan antara 2 protoplas yang saling berlekatan yang berasal dari satu filament. Contoh: zygnema
  • Konjugasi silang yaitu perkawinan antara 2 protoplas yang tanpa saluran konjugasi. Contoh: mougeotia dan zygnema

Secara seksual

secara seksual: isogami, Anisogami, oogami, aplanogami. Isogami yaitu: gamet yang bentuk dan ukurannya sama (belum dapat dibedakan mana jantan dan betina). Contoh: gonium, ulva. Anisogami : gamet yang bentuk dan ukurannya tidak sama (gamet yang bentuk dan ukurannya tidak sama). Contoh: codium, bryopsis. Oogami yaitu jenis anisogami dengan gamet jantan yang aktif (gametangium oogonium, dan gametangium spermatid). Contoh: volvox dan oedogonium. Berdasarkan sel gamet, perkembangbiakan dibedakan menjadi:

  • Heterotalik, yaitu perkembangbiakan yang berasal dari dua talus yang berbeda. Contoh: spyrogira.
  • Homotalik, yaitu perkembangbiakan yang berasal dari satu talus. Contoh: zygnema

sumber gambar  www.uic.edu

 

MACAM-MACAM CHLOROPHYTA

  • Chlorophyta bersel tunggal dapat bergerak

Chlamidomonas. Bentuk sel bulat telur, memiliki 2 flagel sebagai alat gerak, terdapat 1 vacuola, satu nukleus dan kloroplas. Pada kloroplas yang bentuknya seperti mangkuk terdapat stigma (bintik mata) dan pirenoid sebagai tempat pembentukan zat tepung.

  • Chlorophyta berbentuk koloni tidak bergerak

Hydrodictyon. Hydrodictyon banyak ditemukan di dalam air tawar dan koloninya berbentuk seperti jala. Ukuran cukup besar sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang. Reproduksi vegetatif dengan zoospora dan fragmentasi. Fragmentasi dilakukan dengan cara melepas sebagian koloninya dan membentuk koloni baru. Sedangkan reproduksi generatif dengan konjugasi

  • Chlorophyta berbentuk koloni dapat bergerak

Volvox ditemukan di air tawar, koloni berbentuk bola jumlah antara 500 sampai 5000 buah. Tiap sel memiliki 2 flagel dan sebuah bintik mata. Reproduksi aseksual dengan fragmentasi dan seksual dengan konjugasi sel-sel gamet.

  • Chlorophyta berbentuk lembaran

Ulva. Ganggang ini ditemukan di dasar perairan laut dan menempel di dasar, bentuk seperti lembaran daun. Berkembangbiak secara vegetatif dengan menghasilkan spora dan spora tumbuh menjadi Ulva yang haploid (n), Ulva haploid disebut gametofit haploid. Kemudian secara generatif menghasilkan gamet jantan dan gamet betina. Pertemuan gamet jantan dan gamet betina akan menghasilkan zigot (Z2n). Zigot berkembang menjadi Ulva yang diploid disebut sporofit. Selanjutnya sporofit membentuk spora yang haploid setelah mengalami meiosis. Selanjutnya mengalami mitosis dan menghasilkan gametofit haploid Chara. Chara hidup di air tawar terutama melekat pada batu-batuan. Bentuk talus seperti tumbuhan tinggi, menyerupai batang, yang beruas-ruas dan bercabang-cabang, berukuran kecil. Pada ruasnya terdapat nukula dan globula. Di dalam nukula terdapat arkegonium dan menghasilkan ovum. Di dalam globula terdapat anteridium yang memproduksi spermatozoid. Spermatozoid akan membuahi ovum dan menghasilkan zigospora yang berdinding sel. Pada reproduksi secara vegetatif dilakukan dengan cara fragmentasi.

 

Klasifikasi

Terdiri atas satu kelas:Clorophyceae

Terdiri atas 4 ordo            :

- Chlorococcales

- Tetrasporales

- Zygnematales

- Volvocales

  1. Chlorococcales

Sel-sel vegetatif tidak mempunyai bulu cambuk jadi tidak bergerak. Mempunyai satu inti dan satu kloroplas. Mereka merupakan satu koloni yang bentuknya bermacam-macam, dan tidak lagi melakukan pembelahan sel yang vegetatif.

Perkembanganbiakan dengan zoospora yang mempunyai dua bulu cambuk, atau dengan spora yang tiddak mempunyai bulu cambuk yang dinamakan aplanospora. Perkembanganbiakan dengan isogami antara lain pada marga Pediastrum.

Chlorococcales hidup sebagai plankton dalam air tawar, kadang-kadang juga pada kulit pohon-pohon dan tembok-tembok yang basah. Ada yang hidup bersimbiosis dengan fungsi sebagai lichenes bahkan ada yang hidup dalam plasma binatang rendah, misalnya Chlorella Vulgaris dam infusoria dan Hydra

2. Tetraporales

3. Zygnematales

Dari suku Zygnemataceae serta marga Zygnema dan Spirogyra, Kedua marga ini tidakmembentuk spora aseksual. Pada Spyrogyra memiliki piranoid yang banyak dan kloroplas bentuk spiral. Sedangkan pada Zygnema memiliki dua kloroplas bentuk bintang.Perkembangan seksual melalui konyugasi, dimana tiap sel dalam filamen menghasilkan satu gamet tidak memiliki flagel.

4. Volvocales

Dari kelas Chalmydomonadaceae, bangsa Chalmydomonas, merupakan sel vegetatif berflagel dua dapat bergerak,dan uniselular. Pembikan seksual terjadi dengan peleburan sel vegetatif dan aseksual dengan pembelahan sel.Dari Suku Volvocaceae dan Marga Volvox, merupakan sel vegetaif berflagel dua, hidup berkoloni (senobium) setiap sel dalam senobium dihubungkan dengan benang-benang sitoplasma. Dalam koloni besar terdapat sel vegetatif yang besar, sel-sel ini adalah Gonidiayang merupakan sel pemula dari koloni anak. Pembiakan seksual dengan cara oogami.Konjugasi sel gamet Volvox

 

PERANAN CHLOROPHYTA

Chlorophyta mempunyai peranan penting dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

  • Produsen dari ekosistem air
  • Sebagai alternatif bahan pangan bagi astronot, terutama spesies chlorella (karena kandungan chlorelinnya banyak mengandung vitamin E)
  • Sbagai sumber protein sel tunggal contoh chlorela
  • Sebagai bahan makan contoh volvox sebagai sayuran
  • Sebagai plankton, merupakan salah satu komponen yang penting dalam rantai makanan di perairan tawar
  • Menghasilkan O2 (oksigen) dan hasil fotositensis yang diperlukan oleh hewan lain untuk bernafas

Chloropyta juga mempunyai efek negatif yaitu:

  • Dapat mengganggu jika perairan terlalu subur
  • Membuat air berubah warna dan menjadi bau
  • Menjadi masalah dalam proses penjernihan air
  • Menyebabkan penyumbatan pada saringan pengolahan air.

 

 

referensi :

- http://alvin53.blogspot.com/2008/11/chlorophyta.html

- http://zaifbio.wordpress.com/2009/01/30/chlorophyta-algae-hijau

Eudorina dan Klasifikasi atau Taksonomi

Eudorina adalah flagellata kolonial. sel-sel individual dengan diameter 10-25 mikron dan koloni 40-50 mm dengan diameter.

Mereka adalah koloni yang berenang bebas terdiri dari 16-64 sel bulat, masing-masing dengan dua flagella. Mereka memiliki kloroplas, membuat makanan dari sinar matahari dan tersedia dari perusahaan pemasok ilmu pengetahuan.

Eudorina koloni terdiri dari 32 sel individu dikelompokkan bersama. Setiap sel individu mengandung flagela yang memungkinkan koloni untuk bergerak secara keseluruhan ketika sel-sel individual mengalahkan flagela mereka bersama-sama. Keterangan oleh Smith GM (1920, p 95).

Eudorina

Ehrenberg 1832. Koloni selalu motil, berbentuk bola atau sedikit memanjang, dari sel 16-32-64 berbaring jarak tertentu dari satu sama lain dan disusun dalam lingkup cekungan di dekat pinggiran amplop, homogen hialin, gelatin. Sel bulat, dengan atau tanpa paruh pada titik asal dari dua silia. paralel Cilia saat melewati amplop kolonial dan kemudian sangat beragam. kloroplas tunggal, cupshaped, praktis mengisi seluruh sel dan umumnya dengan beberapa pyrenoids. Dinding sel dengan perusahaan, satu atau dua vakuola kontraktil anterior, dan eyespot mencolok tunggal dekat pangkal bulu mata tersebut. Reproduksi aseksual dengan divisi simultan dari semua sel untuk membentuk autocolonies yang dibebaskan oleh pecahnya amplop kolonial. Reproduksi seksual heterogamous, dioecious, dengan semua sel koloni berkembang menjadi oospheres bergerak besar atau massa piring-seperti 32-64 antherozoids fusiform, atau berumah satu dengan empat sel membentuk antherozoids dan oospheres sisanya. Zigot berdinding halus.(Dari Wikipedia)

Taksonomi / Klasifikasi Eudorina

Genus Eudorina Ada sekitar 13 spesies yaitu:

  • Kerajaan: Plantae  – Tanaman
  • Filum: Chlorophyta – Green Algae
  • Kelas: Chlorophyceae
  • Order: Volvocales
  • Keluarga: Scarabaeoidea
  • Genus: Eudorina
  • Khusus julukan: californica
  • Botanical name: – Eudorina californica
  • Kerajaan: Plantae – Tanaman
  • Filum: Chlorophyta – Green Algae
  • Kelas: Chlorophyceae
  • Order: Volvocales
  • Keluarga: Scarabaeoidea
  • Genus: Eudorina – Ehrenberg, 1831 [1832]
  • Julukan khusus: cylindrica – Meigen, 1818
  • Botanical name: – Eudorina cylindrica Meigen, 1818
  • Kerajaan: Plantae – Tanaman
  • Filum: Chlorophyta – Green Algae
  • Kelas: Chlorophyceae
  • Order: Volvocales
  • Keluarga: Scarabaeoidea
  • Genus: Eudorina – Ehrenberg, 1831 [1832]
  • Khusus julukan: elegans – Ehrenberg
  • Botanical name: -Eudorina elegans Ehrenberg
  • Kerajaan: Plantae – Tanaman
  • Filum: Chlorophyta – Green Algae
  • Kelas: Chlorophyceae
  • Order: Volvocales
  • Keluarga: Scarabaeoidea
  • Genus: Eudorina
  • Khusus julukan: elegans – Playfair
  • Varietas: richmondiae
  • Botanical name: – Eudorina elegans  var. richmondiae Playfair
  • Kerajaan: Plantae – Tanaman
  • Filum: Chlorophyta – Green Algae
  • Kelas: Chlorophyceae
  • Order: Volvocales
  • Keluarga: Scarabaeoidea
  • Genus: Eudorina
  • Khusus julukan: elegans
  • Varietas: wallichii
  • Botanical name: – Eudorina elegans  var. wallichii
  • Domain: Eukaryota – Whittaker & Margulis, 1978
  • Kerajaan: Plantae – Haeckel, 1866 – Tanaman
  • Subkingdom: Viridaeplantae – Cavalier-Smith, 1981
  • Filum: Chlorophyta – Auct. – Green Algae
  • Subfilum: Chlorophytina – Cavalier-Smith, 1998
  • Infraphylum: Tetraphytae – Cavalier-Smith, 1998
  • Kelas: Chlorophyceae – T. Christensen, 1994
  • Order: Volvocales – Oltmanns, 1904
  • Keluarga: Volvocaceae – Ehrenberg, 1834
  • Genus: Eudorina – Ehrenberg, 1831 [1832]
  • Khusus julukan: elegans – Ehrenberg
  • Botanical name: -Eudorina elegans  Ehrenberg wallichii
  • Kerajaan: Plantae – Tanaman
  • Filum: Chlorophyta – Green Algae
  • Kelas: Chlorophyceae
  • Order: Volvocales
  • Keluarga: Scarabaeoidea
  • Genus: Eudorina – Ehrenberg, 1831 [1832]
  • Khusus julukan: illinoisensis – (Kofoid) Pascher
  • Botanical name: – Eudorina illinoisensis (Kofoid) Pascher
  • Kerajaan: Plantae – Tanaman
  • Filum: Chlorophyta – Green Algae
  • Kelas: Chlorophyceae
  • Order: Volvocales
  • Keluarga: Scarabaeoidea
  • Genus: Eudorina – Ehrenberg, 1831 [1832]
  • Julukan khusus: indica – Iyengar
  • Botanical name: – Eudorina indica Iyengar
  • Kerajaan: Plantae – Tanaman
  • Filum: Chlorophyta – Green Algae
  • Kelas: Chlorophyceae
  • Order: Volvocales
  • Keluarga: Scarabaeoidea
  • Genus: Eudorina – Ehrenberg, 1831 [1832]
  • Khusus julukan: minodii – (R. Chodat) H. Nozaki & L. Krienitz
  • Botanical name: -Eudorina minodii (R. Chodat) H. Nozaki & L. Krienitz
  • Kerajaan: Plantae – Tanaman
  • Filum: Chlorophyta – Green Algae
  • Kelas: Chlorophyceae
  • Order: Volvocales
  • Keluarga: Scarabaeoidea
  • Genus: Eudorina – Ehrenberg, 1831 [1832]
  • Julukan khusus: unicocca
  • Botanical name: – Eudorina unicocca
  • Domain: Eukaryota – Whittaker & Margulis, 1978
  • Kerajaan: Plantae – Haeckel, 1866 – Tanaman
  • Subkingdom: Viridaeplantae – Cavalier-Smith, 1981
  • Filum: Chlorophyta – Auct. – Green Algae
  • Subfilum: Chlorophytina – Cavalier-Smith, 1998
  • Infraphylum: Tetraphytae – Cavalier-Smith, 1998
  • Kelas: Chlorophyceae – T. Christensen, 1994
  • Order: Volvocales – Oltmanns, 1904
  • Keluarga: Volvocaceae – Ehrenberg, 1834
  • Genus: Eudorina – Ehrenberg, 1831 [1832]
  • Julukan khusus: unicocca
  • Botanical name: -Eudorina unicocca  peripheralis
  • Kerajaan: Plantae – Tanaman
  • Filum: Chlorophyta – Green Algae
  • Kelas: Chlorophyceae
  • Order: Volvocales
  • Keluarga: Scarabaeoidea
  • Genus: Eudorina
  • Khusus julukan: unicocca – Sasa & Suzuki, 2001
  • Varietas: peripheralis
  • Botanical name: – Eudorina var unicocca. peripheralis Sasa & Suzuki, 2001

Pengertian Protozoa dan pembagian kelasnya

PhotobucketPhotobucket

I. Pengertian

Protozoa berasal dari kata protos yang berarti pertama dan zoo yang berarti hewan sehingga disebut sebagai hewan pertama. Merupakan filum hewan bersel satu yang dapat melakukan reproduksi seksual (generatif) maupun aseksual (vegetatif).Habitat hidupnya adalah tempat yang basah atau berair. Jika kondisi lingkungan tempat hidupnya tidak menguntungkan maka protozoa akan membentuk membran tebal dan kuat yang disebut Kista. Ilmuwan yang pertama kali mempelajari protozoa adalah Anthony van Leeuwenhoek.

II. Ciri – ciri Protozoa

Photobucket

1.Umumnya tidak dapat membuat makanan sendiri  (heterotrof)
2.Protozoa memiliki alat gerak yaitu ada yang berupa kaki semu, bulu getar (cillia) atau bulu cambuk (flagel).
3.Hidup bebas, saprofit atau parasit
4.Organisme bersel tunggal
5.Eukariotik atau memiliki membran nukleus/ berinti sejati
6.Hidup soliter (sendiri) atau berkoloni (kelompok)
7.Dapat membentuk sista untuk bertahan hidup. sista, merupakan bentuk sel protozoa yang terdehidrasi dan berdinding tebal mirip dengan endospora yang terjadi pada bakteri
8.Protozoa mampu bertahan hidup dalam lingkungan kering maupun basah.
9.Protozoa tidak mempunyai dinding sel
10.Protozoa merupakan organisme mikroskopis yang prokariot

III. Pembagian Kelas

PROTOZOA DIBAGI MENJADI 4 KELAS  BERDASAR ALAT GERAK

1 Rhizopoda (Sarcodina),
alat geraknya berupa pseudopoda (kaki semu)
• Amoeba proteus
memiliki dua jenis vakuola yaitu vakuola makanan dan
vakuola kontraktil.
• Entamoeba histolityca
menyebabkan disentri amuba (bedakan dengan disentri basiler
yang disebabkan Shigella dysentriae)
• Entamoeba gingivalis
menyebabkan pembusukan makanan di dalam mulut
radang gusi (Gingivitis)
• Foraminifera sp.
fosilnya dapat dipergunakan sebagai petunjuk adanya minyak
bumi. Tanah yang mengandung fosil fotaminifera disebut tanah globigerina.
• Radiolaria sp.
endapan tanah yang mengandung hewan tersebut digunakan
untuk bahan penggosok.
2 Flagellata (Mastigophora),
alat geraknya berupa nagel (bulu cambuk). Dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu: 

• Golongan phytonagellata

- Euglena viridis (makhluk hidup peralihah antara protozoa
dengan ganggang)
- Volvax globator (makhluh hidup peralihah antara
protozoa dengan ganggang)
- Noctiluca millaris (hidup di laut dan dapat mengeluarkan
cahaya bila terkena rangsangan mekanik)

• Golongan Zooflagellata, contohnya :

- Trypanosoma gambiense & Trypanosoma rhodesiense.
Menyebabkan penyakit tidur di Afrika dengan vektor (pembawa)
Þ lalat Tsetse (Glossina sp.)
Trypanosoma gambiense vektornya Glossina palpalis Þ tsetse
sungai
Trypanosoma rhodeslense vektornya Glossina morsitans
Þtsetse semak
– Trypanosoma cruzl
Þ penyakit chagas
– Trypanosoma evansi
Þ penyakit surra, pada hewan ternak
(sapi).
– Leishmaniadonovani
Þ penyakit kalanzar
– Trichomonas vaginalis
Þ penyakit keputihan

3 Ciliata (Ciliophora),
alat gerak berupa silia (rambut getar)Photobucket 

• Paramaecium caudatum Þ disebut binatang sandal, yang memiliki dua jenis vakuola yaitu vakuola makanan dan vakuola kontraktil yang berfungsi untuk mengatur kesetimbangan tekanan osmosis (osmoregulator).

Memiliki dua jenis inti Þ Makronukleus dan Mikronukleus (inti reproduktif). Cara reproduksi, aseksual Þ membelah diri, seksual  konyugasi.

• Balantidium coli Þ menyebabkan penyakit diare.

4 Sporozoa,
adalah protozoa yang tidak memiliki alat gerak 

Cara bergerak hewan ini dengan cara mengubah kedudukan tubuhnya. Pembiakan secara vegetatif (aseksual) disebut juga Skizogoni dan secara generatif (seksual) disebut Sporogoni.

Marga yang berhubungan dengan kesehatan manusia Þ Toxopinsma dan Plasmodium.

Jenis-jenisnya antara lain:
- Plasmodiumfalciparum Þ malaria tropika Þ sporulasi tiap hari
- Plasmodium vivax Þ malaria tertiana Þ sporulasi tiap hari ke-3
(48 jam)
- Plasmodium malariae Þ malaria knartana Þ sporulasi tiap hari
ke-4 (72 jam)
- Plasmodiumovale Þ malaria ovale

Siklus hidup Plasmodium mengalami metagenesis terjadi di dalam tubuh manusia (reproduksi vegetatif Þ skizogoni) dan didalam tubuh nyamuk Anopheles sp. (reproduksi generatif Þ sporogoni). secara lengkap sebagai berikut:

Sporozoit Þ Masuk Tubuh Di Dalam Hati (Ekstra Eritrositer) Þ Tropozoid Þ Merozoit (memakan eritrosit Þ Eritrositer) Þ Eritrosit Pecah (peristiwanya Þ Sporulasi) Þ Gametosit Þ Terhisap Nyamuk Þ Zygot Ookinet Þ Oosis Þ Sporozeit.

Pemberantasan malaria dapat dilakulcan dengan cara :

  1. Menghindari gigitan nyamuk Anopheles sp.
  2. Mengendalikan populasi nyamuk Anopheles dengan insektisida dan larvasida

Pengobatan penderita secara teratur dengan antimalaria  chloroquin, fansidar, dll

VI.   Peranan

Peran menguntungkan :

  1. Mengendalikan populasi Bakteri, sebagian Protozoa memangsa Bakteri sebagai makanannya, sehingga dapat mengontrol jumlah populasi Bakteri di alam.
  2. Sumber makanan ikan, Di perairan sebagian Protozoa berperan sebagai plankton (zooplankton)  dan benthos yang menjadi makanan hewan air, terutama udang, kepiting, ikan, dll.
  3. Indikator minyak bumi, Fosil Foraminifera menjadi petunjuk sumber minyak, gas, dan mineral.
  4. Bahan penggosok, Endapan Radiolaria di dasar laut yang membentuk tanah radiolaria, dapat dijadikan sebagai bahan penggosok.

Peran Merugikan :

Protozoa menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan ternak. Penyakit-penyakit yang disebabkan Protozoa antara lain :

Jenis penyakit Protozoa
Disentri
Diare (Balantidiosis)
Penyakit tidur (Afrika)
Toksoplasmosis (kematian janin)
Malaria tertiana
Malaria quartana
Malaria tropika
Kalaazar
Surra (hewan ternak)
Entamoeba histolytica
Balantidium coli
Trypanosoma gambiense
Toxoplasma gondii
Plasmodium vivax
Plasmodium malariae
Plasmodium falciparum
Leishmania donovani
Trypanosoma evansi 


Contoh contoh Fitoplankton

  • Kelompok Desmidiaceae, Filum Chlorophyta

1. Staurastrum

Taksonomi / klasifikasi Staurastrum :
Domain             : Eukaryota (Whittaker & Margulis,1978 – eukaryotes)
Kingdom           : Plantae (Haeckel, 1866)
Subkingdom  : Viridaeplantae (Cavalier-Smith, 1981 – Green Plants)
Filum          : Charophyta
SubFilum    : Phragmophytina (Cavalier-Smith, 1998 – Phragmophytes)
Infraphylum : Rudophytae (Cavalier-Smith, 1998 – Rudophytes)
Kelas                   : Charophyceae
Ordo                  : Zygnematales
Subordo         : Desmidiineae
Famili              : Desmidiaceae
Genus                : Staurastrum

2. Micrasterias

Taksonomi / klasifikasi Micrasterias :

Kingdom : Plantae
Divisi : Charophyta
Kelas : Zygnemophyceae
Ordo : Desmidiales
famili : Desmidiaceae
Genus : Micrasterias
  • Bentuk Koloni, Filum Chlorophyta

1.Eudorina


Taksonomi / klasifikasi Eudorina :

Kingdom: Plantae - Plants
Phylum: Chlorophyta - Green Algae
Class: Chlorophyceae
Order: Chlamydomonadales
Family: Volvocaceae
Genus: Eudorina

2. Volvox

Taksonomi / klasifikasi Volvox :

DomainEukaryota
KerajaanPlantae
SubkingdomViridaeplantae
FilumChlorophyta
SubfilumChlorophytina
InfraphylumTetraphytae
Kelas:Chlorophyceae
Order: Volvocales
Keluarga: Volvocaceae
Genus: Volvox


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 50 other followers

%d bloggers like this: