#Majulah Dunia Perikanan dan Kelautan Indonesia# Pengetahuan yang kita miliki bukan milik dan untuk kita pribadi # Diharapkan Commentnya ya ^-^ #

INILAH.COM, Jakarta – Riset Institut Pertanian Bogor (IPB) terhadap susu formula menunjukkan bahwa sebanyak 22,73 persen susu formula dari 22 sampel terkontaminasi Enterobacter sakazakii. Selain itu, sebanyak 40 persen makanan bayi dari 15 sampel yang diteliti dan dipasarkan pada April-Juni 2006 terkontaminasi bakteri tersebut.

Penelitian Sri Estuningsih itu dilakukan pada 2006 dan baru dipublikasikan pada Februari 2008. Dari hasil penelitian tersebut, David ML Tobing menggugat IPB, Badan Perlindungan Obat dan Makanan (POM) dan Menteri Kesehatan yang saat itu dijabat Siti Fadilah Supari karena tidak mengumumkan nama-nama susu yang tercemar tersebut.

Mengumumkan merek-merek susu tersebut penting untuk melindungi masyarakat. Sebab bakteri tersebut tergolong berbahaya. Situs Wikipedia menulis, bakteri tersebut bersumber dari tanah, air, sayuran, tikus, dan lalat. Ini juga bukan bakteri yang merupakan mikroorganisma normal pada saluran pencernaan hewan dan manusia.

Biasanya, bakteri tersebut ditemukan di lingkungan industri makanan seperti pabrik susu, coklat, kentang, sereal, dan pasta, lingkungan berair, sedimen tanah yang lembab.

Bakteri tersebut berbahaya bagi bayi baru lahir hingga berumur 28 hari, bayi dengan gangguan sistem tubuh, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), bayi prematur, dan bayi yang lahir dari ibu yang mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Bayi dalam kelompok tersebut merupakan yang paling rentan terinfeksi Enterobacter sakazakii. Bakteri tersebut dapat menyebabkan radang selaput otak dan radang usus pada bayi.

Bakteri itu bisa menyebabkan berbagai macam infeksi termasuk bakteremia, infeksi saluran pernapasan bagian bawah, infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi saluran kemih, infeksi dalam perut, radang jantung, radang sendi, osteomyelitis, dan infeksi mata.

Angka kematian akibat infeksi Enterobacter sakazakii mencapai 40 persen hingga 80 persen. Sebanyak 50% pasien yang dilaporkan menderita infeksi E. sakazakii meninggal dalam waktu satu minggu setelah diagnosa. Hingga kini belum ada penentuan dosis infeksi E. sakazakii, namun sebesar 3 cfu/100 gram dapat digunakan sebagai perkiraan awal dosis infeksi.

Sampai saat ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum mengharuskan negara-negara anggota WHO melakukan pemeriksaan rutin terhadap bakteri Enterobacter sakazakii mengingat dalam 42 tahun terakhir, hanya 46 kasus di seluruh dunia. [tjs]

Inilah Bahaya Enterobacter sakazakii – nasional.inilah.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: