#Majulah Dunia Perikanan dan Kelautan Indonesia# Pengetahuan yang kita miliki bukan milik dan untuk kita pribadi # Diharapkan Commentnya ya ^-^ #

? “TANDA TANYA”

Genre

Writer

Producer

Director

Studio

Cast

: Drama

: Titin Wattimena

: Celerina Judisari, Hanung Bramantyo 

: Hanung Bramantyo

: Mahaka Pictures, Dapur Film

: Reza Rahadian

Revalina S. Temat

Agus Kuncoro

Endhita

Rio Dewanto

Hengky Sulaeman

 

Kalimat di atas merupakan tag line dari film karya Hanung Bramantyo yang berjudul ? (Tanda Tanya).

Film berjudul ? yang dibaca Tanda Tanya ini merupakan sebuah film yang sarat dengan kritik bagi kondisi masyarakat Indonesia. “?”, memberikan penegasan kalau kalimat itu adalah sebuah pertanyaan. Film ini memiliki pertanyaan-pertanyaan itu, mengingatkan penonton bahwa mereka juga pernah bertanya soal yang sama seperti apa yang dipertanyakan film ini, kemana sikap toleransi itu pergi? kenapa kita, sesama makhluk Tuhan tidak bisa akur, harus terus cekcok? kenapa harus selalu menyalahkan agama? apakah ketika seseorang jahat, agamanya juga jadi jahat, bukankah semua agama mengajarkan hal yang sama, kebaikan? apa yang divisualisasikan Hanung menurut saya bukan juga sebuah jawaban, dia sama-sama orang yang bertanya di filmnya sendiri, apa yang dihadirkan oleh film ini bisa dibilang adalah sebuah jalan lain, jalan alternatif. Hanung memberikan kita jendela yang terbuka untuk melihat “seperti ini loh jadinya ketika perbedaan itu dikesampingkan dan kita saling berangkulan”.

 

Film ? mengambil setting tahun 2010, di daerah Pasar Baru, Semarang. Daerah ini merupakan pemukiman dengan penduduk yang beragam latar belakang etnis dan agama. Perbedaan inilah yang mewarnai hari-hari warga Pasar Baru tersebut.

Ada 3 keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Kat keluarga Tan Sun memilikirestoran makanan Cina yang menyajikan makanan halal bukan, keluarga Soleh,seorang pria pengangguran namun memiliki istri yang cantik dan Soleha, keluargaRika, seorang janda dengan seorang anak, yang memiliki hubungan dengan Surya, priamuda yang memiliki tidak pernah menikah. Hubungan antara keluarga keluarga dalam kaitannya dengan masalah pandangan yang berbeda, status, agama dan suku.

 

 

Tokoh utama wanita di film ini adalah Menuk, yang diperankan oleh Revalina S. Temat. Dikisahkan Menuk adalah istri dari seorang pengangguran yang bernama Soleh yang diperankan oleh Reza Rahadian. Menuk sebenarnya memiliki masa lalu dengan Hendra yang diperankan oleh Rio Dewanto. Hendra adalah anak pemilik restoran tempat Menuk bekerja.

Menuk dan Hendra berpisah karena perbedaan agama. Ayah Hendra, Tan Kat Sun, yang diperankan oleh Hengky Sulaeman adalah seorang Cina yang taat pada agamanya namun sangat menghormati agama lain. Tan Kat Sun memasak makanan non-halal di restorannya, tetapi dipisahkan dari masakan halal sehingga umat Muslim tetap bisa makan. Tan Kat Sun juga ikut mendukung saat ada perayaan Paskah di gereja. Ia juga sangat menghargai para karyawannya yang kebanyakan Muslim dengan memberi waktu untuk beribadah, juga libur 5 hari saat Idul Fitri.

Sayangnya, Hendra tidak setuju dengan kebaikan hati ayahnya itu. Ia menganggapnya tidak mendatangkan keuntungan. Selain itu Hendra memiliki kecemburuan dengan Soleh yang berhasil merebut hati Menuk.

Menuk juga bersahabat dengan Rika, seorang Muslim yang bercerai dari suaminya dan pindah agama menjadi Katolik. Rika dekat dengan Surya, seorang Muslim, aktor yang tidak pernah mendapat pernah mendapat peran utama dan pada akhirnya ketika ia mendapat peran utama, ia berperan sebagai Yesus dalam drama Paskah. Batin Surya pun bergejolak. Rika sendiri membesarkan anaknya dengan didikan Islam, seperti mengaji, puasa, dan Lebaran. Walaupun Rika sendiri merayakan Natal.

Konflik antar etnis dan agama terus memanas, ditambah kecemburuan karena memperebutkan Menuk…

 

Bagaimana kelanjutan kisahnya? Ada baiknya kita saksikan secara langsung🙂

Tapi yang pasti, kehadiran film bertema keragaman dan toleransi ini diharapkan dapat memberikan gambaran akan arti penting TOLERANSI dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan dapat dijadikan sebuah kekuatan untuk mencari keyakinan yang hakiki tanpa harus saling menyakiti. Keyakinan tersebut pada akhirnya tergantung kepada jawaban yang ditemukan oleh masing-masing pribadi.

Comments on: "Filim 2011 “? (Tanda Tanya)” Masih Pentingkah Kita Berbeda? Bertema keragaman dan toleransi beragama" (8)

  1. wah penasaran ingin nonton filim ini segera.. sangat menarik dan membangun sepertinya
    😀

  2. Pada hakekatnya hrs ada perbedaan agar ada aliran.
    Jika semuanya sama maka kita akan menggenang,
    Mapan dan membusuk.

    Salam Damai!

  3. buat Ummat Muslim, film ini adalah sebuah penghinaan dan pelecehan ajaran Islam, bagaimana tidak, film ini (dan film-film hanung yg bertema agama) mengajak orang Islam untuk membebaskan ajaran Islam sesuai pemahaman sendiri-sendiri, sedang ddalam Islam, ilmu itu tidak bisa dipelajari sendiri, harus berguru (ada gurunya), bahkan film ini menunjukan dengan jelas sosok Muslim wanita yang melepaskan agamanya, bahkan sosok Muslim yang mau menjual keyakinannya demi uang.

    seharusnya sutradara Hanung sadar, jika ingin membuat film bertema agama seharusnya didampingi orang yang memiliki ilmu agama, seperti film sebelumnya sang pencerah.

    kita semua kan tahu kalo sutrdr. Hanung itu “orang theater” bukan “orang agama” mana bisa dia membuat film tentang agama.

    semoga film ini cepat ditarik dari peredaran, sebelum Ummat Islam dinegeri ini hilang kesabarannya

    sedih + merasa dilecehkan.

    • Anda ini bicara apa betul mewakili Ummat muslim?? seperti sudah tahu bgt anda ya.

      Memangnya anda sudah menonton filim ini? wah sepertinya sudah sangat mengerti arti dalam filim itu…

      WAH Bisa dengan mudah anda mengatakan “sebelum Ummat Islam di negeri ini hilang kesabarannya”

      Hati2 dgn kata2 anda.. membawa2 hal seperti itu.. Jgn menilai sesuatu terlalu cepat..

      • dear naibaho.

        saya brbicara atas nama pribadi, dan kebetulan saya menganut ajaran yg menyatakan bahwa pluralisme agama (mncampur adukan ajaran agama2) & bekerja ditempat haram (sprti bkrja utk restoran penyaji daging babi) adalah sesuatu yg haram.

        sayangnya ajaran yg menyatakan keharaman hal tersebut adalah ajaran Islam.

        menonton felm itu kan gak cuma liat cinematografinya yg memukau atau manjain mata aja, tapi lihat pesan/misi yg disampaikan sutradara atau produser felm itu.

        dan lagi sangat disayangkan, sdr. Hanung yg ngaku beragama Islam menyampaikan pesan yg menyimpang dari ajaran Islam.

        pesan ini tentu disambut gembira oleh mereka yg ingin ajaran Islam ini rusak dan bahkan hilang, saya berharap bro Naibaho tidak termasuk orang2 sperti itu, bukankah kita harus toleransi/menghargai ajaran agama lain.

        sbagai pejuang toleransi, seharusnya kita hormati ajaran Islam itu bukan malah dirusak atau ditentang.

  4. Maren Kitatau said:
    April 10, 2011 at 12:16 am

    Pada hakekatnya hrs ada perbedaan agar ada aliran.
    Jika semuanya sama maka kita akan menggenang,
    Mapan dan membusuk.

    Tengoklah:

    Angin mengalir karena ada beda tekanan.
    Sungai mengalir karena ada beda keinggian.
    Listrik mengalir karena ada beda potensial.
    dst.

    Semangkin besar perbedaan
    Semangkin dahsyat aliran
    Semangkin hidup pikiran
    Memberdayakannya
    Bukan mematikannya.

    Mengalirlah
    Menghidupkan
    Menggenang itu mati!

    Salam Damai

  5. Saya kira dari sudut pandang satu agama, jika kita mendengar salah seorang yang seagama dengan kita pindah ke agama lain, tentu kita akan sedih atau tidak setuju. Film ini menggambarkan wanita muslimah yang pindah agama menjadi Katolik. Umat Islam tentu memandang itu sebagai hal yang tidak patut ditiru. Tetapi:
    1. Ini cuma film
    2. Nyatanya di dunia ini hal semacam itu terjadi, termasuk orang dari agama lain yang menjadi Islam (spt anak si pemilik restoran dalam film ini).

    Maka, bolehlah kita tidak setuju tetapi ya nggak usah sampai menyuruh filmnya di-stop. Saya kira Hanung tidak memaksudkan supaya film ini mengajak umat Islam pindah agama dan sebaliknya. Ini cuma film yang mencoba menggambarkan sebagian dari realitas yg ada. Kalo ceritanya tentang gadis Kristen yang masuk Islam dengan alasan yang sama, semuanya sama, pasti nggak akan diprotes seperti itu. He..he..iya kan???

    • Wah anda sudah mengatakan yang mau saya katakan. Terima kasih🙂

      Filim ini aku yakin dasarnya tidak bermaksud buruk justru agar kita bisa berpikir lebih terbuka terhadap sekitar kita.

      Klu Kita hanya berpendapat atau komentar hanya berdasarkan sepihak saja.. hanya pertentangan yang kita temukan.. Cobalah untuk memahami dan mengerti posisi pihak lain. Dan Jangan langsung dan hanya melihat negatif yang terlintas di pikiran kita.. Coba lah lebih cari positifnya..

      karena bila hanya mau mencari hal negatif.. di Dunia Fana ini sudah terlalu banyak..
      🙂 Thanks Brother..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: