#Majulah Dunia Perikanan dan Kelautan Indonesia# Pengetahuan yang kita miliki bukan milik dan untuk kita pribadi # Diharapkan Commentnya ya ^-^ #

PEMIMPIN YANG MELAYANI

PEMIMPIN YANG MELAYANI.

GOEST MELI 

Pemimpin adalah faktor terpenting untuk mengarahkan tujuan berdirinya sebuah negara. Absennya pemimpin akan membuat negara tidak bisa mencapai segala tujuannya. Menurut Kartini Kartono (1994), pemimpin adalah pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan di satu bidang, sehingga dia mampu memengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya tujuan bersama.

Pemimpin bukanlah subjek yang bisa melakukan apapun semaunya, karena ia dibatasi oleh aturan dan kaidah kepemimpinan. Pemimpin adalah pusat pelaksanaan pencapaian tujuan, yang harus bisa mengerti tujuan dari orang yang dipimpinnya dan bisa mencuri hati mereka. Ibaratnya, pemimpin adalah pelayan yang harus melayani tuannya agar dihargai dan dihormati oleh orang yang dilayaninya itu.

GOEST MELI 

Joko Widodo, Gubernur Jakarta dan mantan Walikota Solo pernah mengatakan, seorang pemimpin harus lebih bersikap horizontal kepada masyarakat dan bawahannya daripada bersikap vertikal. Dengan kata lain, pemimpin harus bisa mendekati masyarakat dan membangun komunikasi yang sejajar. Seorang pemimpin juga harus bisa mendekati masalah dan mempelajarinya, bukan menjauhinya sehingga setiap permasalahan yang ada dapat terselesaikan dengan baik dan cepat.

Sayangnya, banyak pemimpin saat ini kurang mengerti terhadap permasalahan yang ada di masyarakat, karena masih kentalnya sifat eksklusif yang menyebabkan kedekatan antara pemimpin dan masyarakat tidak terbentuk. Akhirnya, seorang pemimpin tidak bertahan lama dalam kepemimpinannya karena tidak adanya jalinan komunikasi yang baik antara pemimpin dengan yang dipimpin.

Di Indonesia, budaya kepemimpinan jauh dari yang diharapkan. Banyak orang berlomba-lomba menjadi seorang pemimpin untuk merebut suatu kekuasaan, tetapi mereka tidak mengerti arti dan fungsi mereka sebagai pemimpin. Kehausan seseorang menjadi pemimpin yang ingin dihargai dan dihormati menyebabkan penyalahgunaan fungsi pemimpin yang seharusnya melayani masyarakatnya.

Pelayanan seorang pemimpin bagi masyarakat harus dijiwai dengan kebudayaannya. Budaya asal akan mengajarkan pemahaman bagaimana sebuah kepemimpinan menciptakan harmonisasi dalam masyarakat. Budaya juga akan mengajarkan posisi seorang pemimpin berjiwa sosial yang tidak menimbulkan ketimpangan dalam masyarakat.

GOEST MELI 

Dalam budaya Batak dikenal dengan istilah Dalihan Na Tolu (Tungku Berkaki Tiga) yang bermakna ada tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama.

Dalihan Na Tolu yang dipilih leluhur suku Batak sebagai falsafah hidup dalam tatanan kekerabatan antara sesama yang bersaudara, menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok.

Dalihan Na Tolu ini juga memiliki nilai-nilai kehidupan yang sangat baik bahkan unik karena sifatnya yang saling mendukung satu sama lain dan di dalamnya terdapat tiga posisi penting kekerabatan bangsa Batak.

Ketiga posisi penting yang dimaksud dalam bangsa Batak ini; yang pertama Hula-hula (keluarga pihak istri) yang posisinya di atas, yang kedua Sanina (saudara semarga) posisinya sejajar, dan yang ketiga Boru(saudara perempuan) yang posisinya di bawah.

Ketiga posisi ini bukanlah kasta dalam bangsa Batak karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut, Ada saatnya menjadi Hula-hula, ada saatnya menempati posisi Sanina dan ada saatnya menjadi Boru. Dengan demikian Dalihan Na Tolu dalam bangsa Batak tidak memandang kedudukan seseorang berdasarkan pangkat, harta atau statusnya.

Seperti halnya budaya Batak tersebut, pemimpin di Indonesia harus bisa menjadikan dirinya bukanlah raja yang selalu dilayani oleh masyarakat, tetapi justru sebagai pelayan yang setia dan menyamaratakan dirinya dengan masyarakat. Indonesia rindu akan pemimpin-pemimpin yang bersedia melayani dan mau mendekatkan dirinya kepada masyarakat serta permasalahan.

Generasi muda sebagai penerus bangsa Indonesia diharapkan lebih mengerti arti dan fungsi seorang pemimpin. Mempersiapkan diri melayani masyarakat dalam sebuah kepemimpinan.

Melayani bukan hanya berarti memenuhi semua permintaan dan keinginan, tetapi menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk dipakai sebagai panutan dan ikut andil dalam setiap permasalahan orang yang dipimpin.

Untuk menanamkan sikap melayani, generasi muda harus terlebih dahulu memahami kebudayaannya masing-masing dan bagaimana dia memposisikan dirinya dalam kebudayaannya itu. Karena setiap kebudayaan di Indonesia mengandung rasa kekeluargaan dan sifat gotong-royong yang nantinya akan tertanam dalam diri para generasi muda.

Dengan seperti itu, kehausan seseorang menjadi pemimpin supaya dihormati dan bebas melakukan kebijakan yang tidak sesuai dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat tidak terjadi lagi.

Menanamkan budaya melayani bagi calon pemimpin adalah langkah yang bagus demi tercapainya tujuan bangsa Indonesia. Pemimpin dengan sikap melayani dan komunikasi yang baik kepada masyarakat, akan lebih dihargai dan dihormati oleh masyarakat serta kepemimpinannya akan bertahan lama, karena manusia akan menghargai orang yang menghargai dirinya.

Arion E.S

Agroteknologi, Pertanian UNPAD

Komisaris Pertanian periode 2012-2013

*) dimuat di: http://www.fokal.info/fokal/2013/11/pemimpin-yang-melayani/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: