#Majulah Dunia Perikanan dan Kelautan Indonesia# Pengetahuan yang kita miliki bukan milik dan untuk kita pribadi # Diharapkan Commentnya ya ^-^ #

Sekolah Marhaen : Sekolah Pengabdian Masyarakat.

sekolah marhaen
Foto: Sekolah Marhaen GMNI Sumedang

Sore hari yang cerah di Jatinangor. Wajah-wajah mungil perempuan berkerudung tampak hadir ditengah Launching Sekolah Marhaen. Tak hanya itu, sosok pria kecil ikut meramaikan dengan peci hitam yang dipakai diatas kepalanya. Makin menambah keseruan dengan diberikannya game motivasi. Terpancar senyum dibalik canda tawa anak-anak yang datang saat itu. “Kakak, kalau sudah besar aku ingin jadi Dokter,” jawab Bintang saat ditanya cita-cita besarnya. Tanpa berlama-lama kawan disampingnya ikut mengaminkan. Itulah keseruan saat Launching Sekolah Marhaen beberapa waktu lalu (11/10).

Sekolah Marhen didirikan atas dasar pemikiran dan kepedulian mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia cabang Sumedang, untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan Bangsa. Sekolah yang kini bertempat di mesjid Al-Ikhlas ini, sudah berdiri sejak tahun 2010. Selama perjalananya Sekolah Marhaen disambut hangat dan didukung oleh masyarakat sekitar. Terbukti anak-anak yang hadir pun banyak ikut datang belajar.

Sejauh ini sudah ada 20 sampai 40 siswa pelajar. Siswa tersebut terdiri dari anak-anak usia dini mulai dari TK, SD, sampai SMP. Usia 2 tahun sampai 5 tahunpun ikut serta didalamnya. Mereka merupakan warga Warung Kalde, Desa Cikeruh, Jatinangor. Desa Cikeruh termasuk salah satu desa dengan latarbelakang ekonomi yang berkecukupan. Meski demikian, masih ada warga yang tergolong kurang mampu secara finansial. Anak-anaknyapun tak banyak yang sekolah sampai jenjang SMA. Ada sedikitnya yang mengenyam sampai tinggkat perguruan tinggi.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Sekolah Marhaen hadir sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Desa Cikeruh sendiri merupakan desa yang tak jauh letaknya dari istana pendidikan yaitu Unpad. Tak banyak anak-anak disana saat ditanya setelah sekolah mau kemana, dengan polosnya menjawab akan ikut bekerja jualan seperti orang tuanya.

“Jawaban ini menjadi kekhawatiran maupun cambuk bagi kami dengan melihat kondisi anak-anak yang minim motivasi dan keinginan untuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi,” ungkap Nanda, mahasiswa Perikanan yang sudah tergabung dalam GMNI sejak 2009.

Sekolah Marhen, tidak seperti sekolah formal pada umumnya. Tidak ada bangunan atau gedung khusus. Baju yang dikenakanpun bukanlah seragam sekolah. Masjid yang berlokasi di kampung Warung Kalde menjadi salah satau tempat belajar yang bisa digunakan. Wisma GMNI pun siap memfasilitasi sebagai tempat berlangsungnya pembelajaran. Namun kapasitas anak-anak yang banyak memadati ruangan, sehingga kurang efektif jika digunakan. Kegiatan belajar rutin ini dilakukan setiap hari jumat dengan dibantu dari teman-teman DKM dan IRMA (Ikatan Remaja Masjid).

Meski tempatnya yang masih numpang, Taman Bacaan Marhaen menjadi tempat anak-anak untuk membaca. Taman Bacaan ini sudah ada sejak 2011 lalu. Siswa bisa meminjam dan membaca buku yang tersimpan rapi di dalam wisma. Tak hanya anak-anak buku orang dewasa seperti mahasiswa pun tersedia. Taman Bacaan bagian dari instrument untuk anak agar gemar membaca dan menambah wawasan akan keingintahuannya.

“Pengajarnya sendiri berasal dari GMNI. Namun tidak menutup kemungkinan non GMNI ikut sebagai pengajar atau volunteer,” ungkap Cristian, ketua GMNI Sumedang saat ditanya MOVE. “Saat ini sudah ada beberapa volunteer yang sudah tergabung dan mangajar,” tambahnya.

Kurikulum yang diterapkan tidak berbeda jauh dengan kurikulum sekolah. Tiap minggunya mata pelajaran yang diberikan berbeda-beda. “Dalam kurikulumnya kami mengajarkan mereka belajar calistung, bahasa Inggris, baca tulis qur’an, dan keterampilan atau kerajinan tangan,” kata Riezeza, penanggung jawab Sekolah marhaen. Tidak hanya itu, siswa dididik menjadi pribadi yang taat dan berbakti kepada orang tua. Siswapun mendapatkan pembelajaran seperti PKN dan sejarah, agar kelak mereka menjadi pribadi yang tidak melupakan jasa para pahlawan. Mereka dibina bagaimana bersosialisasi dan berinteraksi dengan kawan sebayanya dengan baik dan benar. Rasa percaya diri dan kecerdasan anakpun ditingkatkan. Harapannya saat anak berada di sekolah maupun di lingkungan masyarakat, mereka mampu tampil percaya diri dan bersosialisasi.

Setiap ada event atau perlombaan, anak-anak Desa Cikeruh sering ikut tergabung dan mengikuti banyak perlombaan yang diadakan Unpad. Hasilnya, banyak prestasi yang sudah diraih. Ini terlihat dengan adanya piala dan piagam penghargaan yang terpampang di masjid Al-Ikhlas Jatinangor. Perayaan penting atau peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, selalu rutin diadakan setiap tahun dengan adanya panggung hiburan yang bersifat religi. Seperti pembacaan puisi, pidato, bernyanyi, menari, dan penampilan-penampilan lainnya.

“Harapannya, Sekolah Marhaen bisa menginspirasi mahasiswa dengan lebih mengabdikan diri kepada masyarakat khususnya masyarakat Jatinangor. Gedung Sekolah atau tempat belajarpun bisa dibangun untuk kegiatan belajar,” tutur Icut, mahasiswa Fikom Unpad, salah satu volunteer.

Indriati Sari Kusmayani

Wakabid Sarinah DPC Sumedang

Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad

*) dimuat di: Halaman Move, Media Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: